Let the Journey Begins

Oh, hello there!

My name is Tristin and I’m currently attending college when I created this blog. The first purpose I made this blog is to post my tasks and some random stuffs that splashed in my mind. You will find a lot of articles I wrote in Bahasa Indonesia, but in the future, I wish I can post some articles in English so everyone can read my writings.

I had another blog before this one, it was a Blogspot site that I created in 2015 with the same purpose as this blog, but several days ago, I got a recommendation from my lecturer, Miss Nanie, to move into WordPress (it’s a lot simpler she said, which turns out I agreed with her, and I love the fonts!)

I got influenced by a singer-songwriter, Greyson Chance, since 2011. I’ve learned a lot of things from that Oklahoman young man, like American culture, alternative music he likes, and also I learned to find my own authentic personality. He taught me to never stop getting up when you’re down through his life experience that I witnessed.

Also, I love to read books, John Green, Mitch Albom, and Dan Brown are the three writers who could blow my mind up. You might say “I know right,” but they’re truly geniuses. For instance, you can read Green’s Paper Towns, Albom’s The Magic Strings of Frankie Presto, and Brown’s (well I haven’t read much though) Inferno—it changes my mind a lot, FYI.

Wish a four paragraphs of description can pay your curiousness about me. Happy reading!

Processed with VSCO with a6 preset
She was not fragile like a flower, she was fragile like a bomb. — Rahul Singh Ratour

P.s.: The beautiful featured image above was taken by my one and only Whitemate, Stella Felicia at Tanimbar Kei, Indonesia.

P.s.s.: The posts I posted before April 20th, 2018 that you might see at the featured posts are from my previous blog. I moved the best ones to here.

Journey of Revealing The Truth

 Tristin Hartono (14150098)

(sumber foto: klik pada gambar)

 “The only way to protect the right to publish, is to publish.”

Kalimat tersebut masih menempel di pikiran saya sejak credit title ditayangkan. Ben Bradlee, yang diperankan oleh aktor kawakan, Tom Hanks, dengan jelas mengucapkan pernyataan itu ketika ia bersikeras ingin menerbitkan berita yang dapat mempertaruhkan nasib perusahaan surat kabar The Washington Post.

 

Mengambil latar waktu di tahun 1971, ketika perang Amerika-Vietnam hampir berakhir, film besutan Steven Spielberg ini  lagi-lagi berhasil mencetak 13 prestasi pada 12 ajang penghargaan film di Amerika. Selain Tom Hanks yang sudah menjadi langganan memerankan film arahan Spielberg, kita dapat melihat hadirnya Meryl Streep yang memegang peran sebagai karakter utama, yakni Katharine “Kay” Graham, penerbit The Washington Post.

 

Selain kedua tokoh di atas, saya turut menyadari keberadaan karakter yang mondar-mandir di beberapa film yang saya tonton seperti Steve Jobs (2015), Doctor Strange (2017), Call Me by Your Name (2017) hingga The Shape of Water (2017), yap, Michael Stuhlbarg, si pemeran tokoh Abe Rosenthal, editor eksekutif harian New York Times.

 

Daftar pujian yang terpampang di poster film membuat pendapat saya menjadi agak subjektif, bahkan sebelum menonton film ini. Ditambah lagi janji dosen kelas Media Online yang dengan antusias mengajak kami sekelas untuk menonton bersama di bioskop. Saya yakin bahwa film ini akan menjadi salah satu film yang menggugah antusias saya, ditambah lagi, plot cerita yang menyinggung media massa dan diperankan oleh aktor yang tak diragukan lagi kemampuannya.

 

Gambaran Plot

Konflik dimulai ketika Daniel Ellsberg (Matthew Rhys) mencuri data negara berisi dokumen perang Amerika-Vietnam yang kini disebut “Pentagon Papers”. Harian The Washington Post (selanjutnya disingkat “The Post”) yang saat itu sibuk dengan masalah peliputan pernikahan salah satu putri Presiden Nixon mendapat kabar bahwa harian The New York Times merilis berita yang menyatakan bahwa Nixon dan beberapa presiden sebelumnya memalsukan informasi perang dan mengirim tentara sebanyak mungkin meskipun pada akhirnya Amerika akan mengalami kekalahan dari Vietnam.

 

The Post menjunjung tinggi peran surat kabar yang harus berimbang dalam menyajikan informasi. Oleh karena itu, Ben Bradlee, sebagai editor eksekutif, merasa berkewajiban untuk merilis berita sesuai fakta yang akhirnya mengantarkan cerita pada perselisihan antara dirinya dengan Frederick “Fritz” Beebe (Tracy Letts), chief officer The Post.

 

Fritz yang tidak terlalu peduli tentang fakta yang seharusnya diungkapkan ke khalayak bersikeras menolak publikasi tersebut, sebab ia lebih fokus terhadap kestabilan saham The Post. Pada titik inilah Kay Graham harus memutuskan, antara mempertahankan kelangsungan bisnis surat kabarnya, atau membiarkan fakta tersebar di masyarakat.

 

Gambar yang ditata dengan apik melalui perspektif (dari penggunaan rule of third), pencahayaan, fokus, dan sebagainya membuat para penonton tenggelam dalam imajinasi sang sutradara. Pasalnya, pada 30 menit pertama saja saya sudah memerhatikan adanya gerakan kamera yang halus membingkai suasana lalu mengikuti objek yang dituju.

 

Sebagai orang awam pun, saya merasa puas dengan hasil tangkapan gambar arahan Spielberg. Meskipun bukan hal kecil, namun keramaian yang terlihat natural di kantor The Post entah kenapa sudah cukup membuat saya merasa puas, termasuk segelintir karakter yang merokok di dalam gedung (bahkan lift), demi menggambarkan suasana kantor surat kabar tahun 70an.

 

Menyinggung Feminisme

Kedatangan Kay Graham di American Stock Exchange. (dok. penulis)

Selain cerita yang berfokus pada dilema yang dialami Kay, saya juga menemukan pelanggaran terhadap paham feminisme. Kay Graham, sebagai tokoh perempuan pertama yang masuk dalam “Fortune 500 CEO in 1972”, saat itu belum memiliki pedoman bertingkah laku di tengah para pria pebisnis sehingga ia melakukan sedikit kesalahan saat pertama kali menghadiri American Stock Exchange yang ditandai dengan gerakan pelan moderator menahan bahu Kay saat ia akan berdiri.

Kay Graham menarik tumpukan berkas dari mejanya. (dok. penulis)

Contoh lainnya adalah ketika Kay sarapan dengan Ben, meskipun pangkat Kay lebih tinggi, namun Ben berani menegur Kay yang menaruh tangan di atas meja makan, lalu diikuti dengan adegan rapat Kay dengan para bankir, saat dia merasa canggung ketika menaruh tumpukan berkas di atas meja yang setelah itu diturunkannya dari atas meja, hingga para bankir yang kompak menganggap remeh sistem perekonomian The Post karena perusahaan itu dipimpin oleh seorang wanita, seperti yang diutarakan Arthur Parsons (Bradley Whitford) usai rapat.

 

Banyaknya karakter perempuan dengan kedudukan yang lebih rendah di masyarakat membuat saya mulai mengagumi sosok Kay Graham. Dia bisa menjadi tokoh perempuan yang stand out tidak hanya di antara perempuan lain, tapi juga di tengah pria dengan kedudukan tinggi. Dia pun dengan lapang dada membiarkan ayah kandungnya memberikan warisan bisnis untuk suaminya, Phil Graham, lalu meninggalkan kehidupannya bersama anak-cucu ketika suaminya harus pergi untuk selama-lamanya hingga mendedikasikan diri untuk terus mempertahankan perusahaan keluarganya. I mean, she’s seriously a strong woman, though!

(dok. penulis)

Meski diderai berbagai pujian, namun saya punya kritik tersendiri untuk film yang satu ini. Menurut saya, film ini kurang cocok jika dijadikan tontonan keluarga dengan anak-anak di bawah umur, karena cerita yang disajikan agak berat dan cukup membuat penonton Indonesia yang tidak mengerti istilah atau merk produk Amerika harus memutar otak sedikit lebih keras, misalnya ketika salah satu bankir yang menghadiri rapat membicarakan tentang Gannett’s Knight Ridder, yakni salah satu perusahaan media surat kabar dan internet yang berhenti berfungsi sejak 2006. See, saya pun harus menjelajahi internet terlebih dulu untuk mengetahui apa yang sedang mereka bicarakan.

(dok. penulis)

Secara keseluruhan, film yang saya beri rating 7.5/10 ini cocok ditujukan bagi penonton yang tertarik dengan film berplot “berat” yang dibumbui sejarah kelamnya Amerika saat dipimpin Richard Nixon, juga sebagai contoh bagaimana hoax sudah ada sejak zaman dulu, serta seberapa besar perjuangan media massa cetak yang menjunjung tinggi kebenaran informasi harus melalui rintangan demi menunjukkan fakta sebenarnya. Presumably, this is a film about the journey of revealing the truth!

TH