Ini Nih Film Nominasi Oscar yang Nggak Tayang di Indonesia

Menjelang malam penghargaan Oscar yang diadakan pada bulan Februari nanti… Wait, masih bulan depan sih, tapi karena nominasinya udah mengguncang antero jagat maya, tim HPNG tergoda untuk ikut berkontribusi dalam kehebohan momentum Oscar ini.

Jadi gini, tim HPNG punya serangkaian judul film yang masuk nominasi Oscar 2019. Dari ratusan judul, masih banyak judul yang asing di telinga kita. Kenapa bioskop Indonesia nggak tayangin ya? (Mungkin karena bioskop Indonesia lebih doyan film action imporhihi~)

Continue reading “Ini Nih Film Nominasi Oscar yang Nggak Tayang di Indonesia”

Kisah Perjuangan Seorang Ibu Menyelamatkan Anaknya

Eits sabar sabar, nggak salah kok judulnya. Kalian yang udah nonton mungkin paham dengan judul artikel ini. Tapi jangan cemas, judul yang tertera di atas bukan keseluruhan spoiler kok, cuma “teaser spoiler”. Hehe.

 

As we all know, film ini sebenarnya mengisahkan David Kim (John Cho) yang telah ditinggal mati oleh istrinya, Pam (Sara Sohn), akibat menderita kanker darah. Setelah kehilangan sosok ibu di rumah, hubungan David dengan anaknya, Margot (Michelle La), terasa baik-baik saja hingga Margot tiba-tiba menghilang tanpa jejak dan hanya meninggalkan clue berupa 3 miscall saat tengah malam.

 

Keesokan harinya, David yang panik menelepon kepolisian setempat untuk segera melaporkan kehilangan anaknya. Selang beberapa waktu, seorang detektif bernama Rosemary Vick (Debra Messing) mengabarkan David bahwa dirinya merupakan detektif yang akan membantu David mencari Margot. Detektif Vick keukeuh nggak ngebolehin David terlalu melibatkan diri dalam pencarian (hmm).

 

Namun, demi membayar rasa penasaran, David tidak menggubris permintaan detektif Vick dan malah ‘mencari’ jati diri anak gadisnya dari laptop Margot yang tertinggal di dapur. Akhirnya, David mendapat berbagai jawaban mencengangakan (apa?!). Mulai dari percakapan Margot dengan pamannya, Peter (Joseph Lee), hingga transaksi sebesar $2500 ke pengguna tak dikenal melalui layanan transfer uang, Venmo.

 

Keunikan film indie yang tayang premier di Sundance Film Festival 2018 ini terletak pada cara penayangannya. Pasalnya, kita bisa melihat dari keseluruhan adegan film yang disajikan dalam layar monitor, baik layar laptop, HP, atau TV. Selain itu, ada sederetan aplikasi familiar yang ditampilkan, seperti YouTube, Tumblr, Facebook hingga Google Maps. Related banget deh sama teknologi yang sering kita pake saat ini.

 

Let’s go deeper.

Berbagai konflik yang ditampilkan secara konstan sepanjang film membuat para penontonnya tak dapat memperkirakan apa yang akan terjadi selanjutnya. Rangkaian kode juga terlihat muncul pada beberapa tampilan dalam film, seperti (SPOILER ALERT!) tayangan CCTV yang menunjukkan lokasi terakhir mobil Margot ternyata menunjukkan pesan lain, yaitu adanya mobil putih yang mengikuti. Nah makin kepo buat nonton nga nih? Ehe.

 

Keseluruhan petualangan kisah pengenalan ayah terhadap anak semata wayangnya ini tak akan hadir tanpa adanya konflik (yaiyala), yaitu penyebab hilangnya Margot yang ternyata akibat ambisi seorang ibu yang ingin menyelamatkan anaknya. Bener ga, bener ga?

 

Nah, intinya, kalian yang belum nonton, buruan nonton gih. Film ini udah memenangkan 2 penghargaan dari Sundance Film Festival loh, by the way. Tunggu apa lagi? Kuy download tonton filmnya!

 

 

Artikel ini sudah diunggah ke website Happening Films pada 21 Januari 2019.

Glass: Sekuel Koentji Pertemuan ‘Unbreakable’ dan ‘Split’

Buat kalian yang udah tau ceritanya, pasti udah nggak asing lagi dengan makna judul film ini. Yap, Glass. Nah buat yang belom tau nih, Glass itu bukan film yang literally ngebahas tentang gelas ya, shay. Tapi  sekuel dari film Unbreakable yang dirilis tahun 2001 dan Split yang muncul di deretan Now Showing bioskop sejak Februari 2017. Serangkaian film ini menceritakan kehidupan “super hero” yang diciptakan oleh si Mastermind.

Ibarat gelas yang masih sedikit terisi, kita nggak mendapat begitu banyak gambaran saat menonton kedua trailer yang diunggah Universal Pictures. Well, cukup menggoda sih untuk mengundang rasa penasaran, apalagi pas liat potongan akting James McAvoy yang as we all know memerankan banyak karakter dalam 1 tubuh. Ah, belom lagi si Samuel L. Jackson, sang Mastermind yang pas dapet pengarahan malah bengong se-bengong bengongnya. Bo.

Now, let’s get on track, nama Glass ditujukan pada Elijah Price (Samuel L. Jackson), si jenius yang menderita Osteogenesis Imperfecta, sebuah kelainan fisik di mana tubuh tidak mampu memproduksi protein tertentu sehingga tulangnya sangat rapuh. Duh duh, ironis banget gak sih pemikiran sekuat baja tapi fisik serentan kaca *uhuk*. Tapiii, justru si pemancing konflik inilah yang melahirkan karakter-karakter lain. Tambahan info, Elijah ini Mama’s Boy loh, unch!

Karakter kedua adalah David Dunn (Bruce Willis), si Guardian Angel yang selalu disalahpahami sama polisi karena penampilannya yang nggak meyakinkan. Bayangin aja, ngga peduli apapun cuacanya, dia selalu pake jas hujan ponco dong, gimana nggak disangka potential thief?! Nah, kemampuan spesial David Dunn sendiri adalah kekuatan fisik yang super kuat (bahkan dia nggak pernah sakit atau terluka) serta kemampuannya ‘merasakan’ kehidupan orang lain hanya dari sentuhan fisik. Kayak gini nih yang aku suka, peka! Eits tapi dia punya kekurangan juga gengs, trauma masa kecil saat Dunn hampir mati tenggelam membuatnya takut terhadap air, kayak Monkey D. Luffy gitu lah takutnya sama aer.

Si “super hero” terakhir adalah Kevin Wendell Crumb (James McAvoy), manusia dengan 24 kepribadian. Obviously kelebihannya adalah jumlah kepribadian yang dia miliki (wkwk nggak deng), kekuatan karakter yang satu ini ada pada The Beast (bukan pasangannya Belle loh ya) atau kepribadian ke-24 yang fisiknya kayak seekor binatang buas yang kelaparan. Ya meskipun spesial, tapi kehadirannya nggak diharapkan sih. Speaking of which, di sinilah tingkat profesionalitas James McAvoy sebagai aktor, setidaknya ada 5 peran berbeda yang ditunjukkan sekaligus dalam 1 adegan di film ini, wahwah awesome banget gak sih si Professor X kita ini.

Nah ketiga karakter ini akhirnya dipertemukan di seri film yang menurut sang sutradara nggak akan ada sekuel lanjutannya ini. Dari trailer yang udah muncul, seorang psikiater, Dr. Ellie Staple yang diperankan oleh Sarah Paulson, terlihat ingin meyakinkan mereka bahwa kecerdasan dan kekuatan mereka hanya imajinasi komik belaka. Tapi karena sesuai janji yakni tanpa menyertakan spoiler, I wouldn’t tell you akhir dari rencana Dr. Staple, bcs it’s not that easy, Fergusaw. The thing is, Sarah Paulson cukup terlihat ngeselin di sepanjang film. Haha kzl abis deh w.

Film arahan M. Night Shyamalan yang sekaligus menjadi pencipta ‘universe’ ini menjadi tontonan wajib buat kalian yang: (1) beneran kepo sama kelanjutan kisah film Unbreakable dan Split, (2) mau liat gabungan film drama dan thriller yang bersatu, (3) ikutan temen atau gebetan nonton aja, (4) pengen liat James McAvoy. Ya meskipun, for me, endingnya cukup mengecewakan. Kenapa mengecewakan? Ya makanya nonton, Jubaedah!

Selain serangkaian cerita yang terasa pilu untuk diresapi, ada juga beberapa adegan dengan cameo maupun non-cameo yang tiada disangka, misalnya kehadiran Joseph Dunn (Spencer Treat Clark), ituloh anaknya David Dunn yang dulu suportif banget sama kekuatan super papanya, terus ada juga kehadiran cameo si S******** yang tau-tau lagi bertransaksi sama Joseph (hayo transaksi apa nich? Tenang, bukan transaksi yang 80 juta itu kok. Wqwq~). Pokoknya nanti pas nonton Glass jangan lupa gengs…

Jangan sampe lupa…

Pokoknya jangan…

Kalian sampe lupa…

Untuk…

Pesen tiket.

Okay? Okay.

Adios por ahora.

 

Artikel ini sudah diunggah ke website Happening Films pada 18 Januari 2019.

Si Pemain Drum vs Pelatih Musik Killer

“Dentuman drum itu redam, tepat saat dia memasuki ruangan. Si pemain drum kaget, mengarahkan pandangannya kepada pria plontos berpakaian hitam itu. Dia tahu, sosok itu adalah orang terpandang di kampusnya.

“Beberapa minggu kemudian, si pemain drum berada di kelas para pemusik jazz senior. Dia duduk di posisi pemain drum cadangan, menjadi asisten pemain drum inti. Si pria berkepala plontos yang masih mengenakan pakaian hitam memimpin paduan suara alat musik di kelas itu.”

Itulah contoh opening feature film Whiplash, gengs. Nah yang ini baru review-nya secara sub-objektif (maksudnya subjektif tapi ditambahin fakta objektif). Hehe. Hehe. Heh!

Berawal dari rekomendasi teman dan hasil colongan film dari hard disk mentor, saya berniat untuk membuat review mengenai film yang dirilis tahun 2014 ini. Drama berdurasi 107 menit ini dibintangi oleh J.K. Simmons yang sebelumnya pernah memerankan karakter menyebalkan di trilogi Spider-Man (20022007), yaitu sebagai bosnya Peter Parker di Daily Bugle. Selain itu, ada juga Miles Teller, si aktor underrated yang pernah main di film Spectacular Now (2013) dan The Awkward Moment (2016)–bareng Zac Efron.

Seperti yang terlihat di paragraf pertama, film ini mengisahkan Andrew Neiman (Miles Teller), seorang maba—mahasiswa baru, di Shaffer Conservatory of Music yang ingin menjadi drummer jazz profesional seperti Charlie Parker. Lalu J.K. Simmons mendapat peran sebagai pelatih musik Andrew yang botak dan lagi-lagi nyebelin bernama Terence Fletcher. Sepanjang film, kita akan melihat betapa killer-nya Fletcher ngelatih Andrew dan pemain musik lain, nggak sebanding deh sama guru-guru killer SMA yang killer-nya sebatas ngasih ujian atau kuis dadakan. *uhuk*

Mulai dari teriakan, tamparan, ******** *****, sampai ******** (biar nggak spoiler), kerasnya latihan para drummer jazz dari Shaffer Conservatory Studio Band membuat kita (well especially me, who was a drummer) menyadari betapa kerasnya perjuangan menghasilkan musik berkelas, ya meskipun nggak gitu-gitu amat sih caranya. Tapi, ada penjelasan Fletcher yang bikin ngeh, yaitu ternyata kalimat “good job” merupakan pernyataan paling berbahaya yang bisa diucapkan oleh seorang guru. Pasalnya, pujian seperti itu bisa membuat seseorang berhenti meningkatkan kemampuannya karena dia udah merasa cukup, bener ga bener ga? Eits, tapi bukan berarti kalian boleh berhenti bersyukur, ya!

FYI, sebelum meraih kesuksesan hingga memenangkan penghargaan dalam kategori Best Editing dan Best Motion Picture of the Year pada ajang piala Oscar, sang sutradara, Damien Chazelle, tadinya kesulitan mencari sumber dana. Akhirnya, dia membuat Whiplash versi short film lalu memenangkan nominasi sebagai film pendek terbaik di Sundance Film Festival, nah setelah mendapat dana yang cukup, baru deh dibuatin versi full film-nya. That, my child, is the power of a great short film!

By the way, selain kolaborasi Commisioner Gordon (Simmons) dan Mr. Fantastic (Teller), ada sepupunya Superman juga di film ini. Yak, Supergirl-nya CW TV, Melissa Benoist, yang menjadi love interest-nya Andrew. Penasaran gimana Mr. Fantastic pedekate sama Supergirl? Well you can take a guess though, everything is possible in a movie.

Film yang mendapat rating 8.5 di IMDb ini menjadi tontonan wajib bagi klean yang sukak musik, drum, atau film berat penuh intrik dan memancing emosi. Tambahan info lagi, 10 menit terakhir dalam film ini tadinya dihapus, tapi akhirnya dimasukin lagi sama si Om Damien, mungkin supaya emosinya makin dapet. Nah nah, apa tuh kira-kira? Makanya nonton aje udeh.

Artikel ini sudah diunggah ke website Happening Films pada 9 Januari 2019.