Si Pemain Drum vs Pelatih Musik Killer

“Dentuman drum itu redam, tepat saat dia memasuki ruangan. Si pemain drum kaget, mengarahkan pandangannya kepada pria plontos berpakaian hitam itu. Dia tahu, sosok itu adalah orang terpandang di kampusnya.

“Beberapa minggu kemudian, si pemain drum berada di kelas para pemusik jazz senior. Dia duduk di posisi pemain drum cadangan, menjadi asisten pemain drum inti. Si pria berkepala plontos yang masih mengenakan pakaian hitam memimpin paduan suara alat musik di kelas itu.”

Itulah contoh opening feature film Whiplash, gengs. Nah yang ini baru review-nya secara sub-objektif (maksudnya subjektif tapi ditambahin fakta objektif). Hehe. Hehe. Heh!

Berawal dari rekomendasi teman dan hasil colongan film dari hard disk mentor, saya berniat untuk membuat review mengenai film yang dirilis tahun 2014 ini. Drama berdurasi 107 menit ini dibintangi oleh J.K. Simmons yang sebelumnya pernah memerankan karakter menyebalkan di trilogi Spider-Man (20022007), yaitu sebagai bosnya Peter Parker di Daily Bugle. Selain itu, ada juga Miles Teller, si aktor underrated yang pernah main di film Spectacular Now (2013) dan The Awkward Moment (2016)–bareng Zac Efron.

Seperti yang terlihat di paragraf pertama, film ini mengisahkan Andrew Neiman (Miles Teller), seorang maba—mahasiswa baru, di Shaffer Conservatory of Music yang ingin menjadi drummer jazz profesional seperti Charlie Parker. Lalu J.K. Simmons mendapat peran sebagai pelatih musik Andrew yang botak dan lagi-lagi nyebelin bernama Terence Fletcher. Sepanjang film, kita akan melihat betapa killer-nya Fletcher ngelatih Andrew dan pemain musik lain, nggak sebanding deh sama guru-guru killer SMA yang killer-nya sebatas ngasih ujian atau kuis dadakan. *uhuk*

Mulai dari teriakan, tamparan, ******** *****, sampai ******** (biar nggak spoiler), kerasnya latihan para drummer jazz dari Shaffer Conservatory Studio Band membuat kita (well especially me, who was a drummer) menyadari betapa kerasnya perjuangan menghasilkan musik berkelas, ya meskipun nggak gitu-gitu amat sih caranya. Tapi, ada penjelasan Fletcher yang bikin ngeh, yaitu ternyata kalimat “good job” merupakan pernyataan paling berbahaya yang bisa diucapkan oleh seorang guru. Pasalnya, pujian seperti itu bisa membuat seseorang berhenti meningkatkan kemampuannya karena dia udah merasa cukup, bener ga bener ga? Eits, tapi bukan berarti kalian boleh berhenti bersyukur, ya!

FYI, sebelum meraih kesuksesan hingga memenangkan penghargaan dalam kategori Best Editing dan Best Motion Picture of the Year pada ajang piala Oscar, sang sutradara, Damien Chazelle, tadinya kesulitan mencari sumber dana. Akhirnya, dia membuat Whiplash versi short film lalu memenangkan nominasi sebagai film pendek terbaik di Sundance Film Festival, nah setelah mendapat dana yang cukup, baru deh dibuatin versi full film-nya. That, my child, is the power of a great short film!

By the way, selain kolaborasi Commisioner Gordon (Simmons) dan Mr. Fantastic (Teller), ada sepupunya Superman juga di film ini. Yak, Supergirl-nya CW TV, Melissa Benoist, yang menjadi love interest-nya Andrew. Penasaran gimana Mr. Fantastic pedekate sama Supergirl? Well you can take a guess though, everything is possible in a movie.

Film yang mendapat rating 8.5 di IMDb ini menjadi tontonan wajib bagi klean yang sukak musik, drum, atau film berat penuh intrik dan memancing emosi. Tambahan info lagi, 10 menit terakhir dalam film ini tadinya dihapus, tapi akhirnya dimasukin lagi sama si Om Damien, mungkin supaya emosinya makin dapet. Nah nah, apa tuh kira-kira? Makanya nonton aje udeh.

Artikel ini sudah diunggah ke website Happening Films pada 9 Januari 2019.

5 Film Animasi Ter-Happening 2018

Beragam jenis film happening mewarnai jagat layar lebar di 2018. Mulai dari A Quiet Place, Lady Bird, Avengers: Infinity War hingga film lokal seperti Aruna dan Lidahnya. Duh masih banyak lagi yang nggak bisa disebutin di artikel ini.

Tidak terkecuali, film animasi yang bertebaran di hampir semua daftar tayang film baru setiap bulannya, bersaing dengan aneka film drama, horor, dan action. Berikut ini kita udah merangkum 5 film animasi paling happening di 2018 versi Tim HPNG. Markili, maree kita lihat!

1. Incredibles 2


(Incredibles 2/Walt Disney Studios Motion Pictures, 2018)

Film animasi ter-happening pertama adalah Incredibles 2. Sekuel The Incredibles (2004) yang tayang pada pertengahan tahun ini menceritakan keluarga Bob Parr (atau Mr. Incredible) yang harus menghadapi aturan baru mengenai larangan bagi para superheroes untuk bertarung dengan musuh karena akan menimbulkan banyak kerusakan – seperti yang terjadi dalam The Incredibles. Namun seorang CEO perusahaan telekomunikasi, Winston, ingin melegalkan kembali para superheroes dengan segala kemampuan yang dimilikinya. Selain keluarga Incredible, Frozone pun kembali muncul sebagai superhero bersama karakter superhero baru seperti Voyd yang bisa berpindah dimensi, He-Lectrix si manipulator listrik, Screech yang bentuknya kayak burung hantu, Krushauer yang bisa telekinesis, dan masih banyak lagi.

2. Ralph Breaks the Internet


(Ralph Breaks the Internet/Walt Disney Studios Motion Picture, 2018)

Plot Ralph Breaks the Internet (eh, atau The Internet Breaks Ralph?) berawal dari kebosanan Vanellope yang terus menerus memenangkan balapan di Sugar Rush dan usaha Ralph membantu Vanellope, perdebatan sepasang sahabat ini mengantarkan mereka ke suatu petualangan kocak yang akan memecah tawa para penontonnya. Film berdurasi 116 menit ini mengambil latar waktu enam tahun setelah sekuel pertamanya, Wreck-It Ralph. Berbagai punchline yang disajikan oleh Rich Moore dan Phil Jonston nggak akan membuat kalian bosen deh nontonnya.

3. Isle of Dogs


(Isle of Dogs/Fox Searchlight Pictures, 2018)

Demam moncong yang menjangkit para anjing di Megasaki membuat Walikota Kobayashi memutuskan untuk mengirim semua anjing ke Pulau Sampah untuk diisolasi. Keponakan yatim-piatu Walikota Kobayashi yang berumur 12 tahun, Atari, mencari anjing peliharaannya, Spots, yang menjadi penghuni pertama Pulau Sampah. Di sisi lain, Profesor Watanabe dan asistennya berusaha mencari obat penawar untuk menyembuhkan demam moncong ini. Perselisihan dari kedua sisi ini menimbulkan konflik yang dramatis, ditambah cerita drama klasik pencarian anjing yang hilang. Tapi jangan khawatir, keunikan film besutan Wes Anderson ini terletak pada interaksi para anjing dan Atari yang terjebak di Pulau Sampah. Totally recommended!

4. Spider-Man Into the Spider-Verse


(Spider-Man Into the Spider-Verse/Sony Pictures Releasing, 2018)

Satu lagi cerita tentang Spider-man yang rilis di tahun 2018. Pada film ini, pemeran utama Spider-man dimainkan oleh Miles Morales yang berasal dari New York. Kesalahan yang terjadi dalam setiap dimensi memaksa para Spider-man bertemu dan bergabung dalam satu tim. Akibat nyasar, Miles Morales bertemu dengan Spider-man dari dimensi lain, seperti Peter Parker – the character that we all know, Gwen Stacy hingga Peter Porker atau Spider-ham.

[Honorable mention:]

Loving Vincent

(Loving Vincent/Altitude Film Distribution, 2018)

Karya Dorota Kobiela dan Hugh Welchman yang memakan waktu pembuatan selama empat tahun ini menceritakan kisah seorang pria yang mengunjungi kota terakhir yang ditinggali oleh seniman lukis Vincent van Gogh. Armand Roulin diutus oleh ayahnya, Joseph Roulin untuk mengirimkan surat untuk Vincent di Perancis. Film berdurasi 95 menit ini menjadi honorable mention berkat penggunaan lukisan minyak di keseluruhan adegannya.

5. The Grinch


(The Grinch/Universal Pictures, 2018)

Terakhir, ada film animasi dari rumah produksi Illumination yang menceritakan makhluk hijau yang super skeptis dan membenci hari Natal, The Grinch. Akibat peristiwa traumatis di masa kecilnya, The Grinch ingin membalas dendam kepada para penduduk di Whoville. Bersama Max, anjingnya, The Grinch menyamar sebagai Santa Claus untuk mencuri kado dan pohon Natal di Whoville, namun rencananya terhalang oleh seorang anak bernama Cindy Lou Who yang meminta The Grinch untuk membantu ibunya, Donna. Saat artikel ini ditulis, film yang tayang sejak 9 November ini meraih skor 6.4 dari IMDb.

Mulai dari film bertema keluarga, drama, action hingga film bertema Natal, kayaknya udah cukup lengkap nih film animasi yang tayang di 2018. Gimana, gimana, kalian setuju nggak dengan urutan 5 film animasi paling happening versi HPNG Films? Yuk share pendapat kalian di kolom komentar!

Tulisan ini sudah terbit di website HPNG Films pada 27 Desember 2018.
Ilustrasi cover artikel dibuat oleh Yashika Asmi.

TH

5 Rekomendasi Film untuk Menemani Natal Kamu

Jingle bells, jingle bells, jingle all the way! Yippie, sebentar lagi Natalan nih, terus liburan tahun baru, dan balik lagi ke kegiatan normal. Eitss tapi, tidak secepat itu Ferguso.

Nah, sebelum Christmas vibe-mu terlewatkan, tim HPNG punya beberapa rekomendasi film untuk menemani Natal kamu nih. Mau yang kocak? Ada. Mau yang sweet sweet bucin? Ada juga. Mau cerita yang bikin kamu flashback ke masa kecil? Tentu saja ada, tinggal dipilih aja kuy dipilih.

 

5. Fred Claus (2007)


(Fred Claus/Warner Bros. Pictures, 2007)

Di urutan kelima ada Fred Claus yang diperankan oleh Vince Vaughn, kakak Santa Claus (yang diperankan oleh Paul Giamatti) dengan kepribadian yang bertolak belakang dengan sang adik. Santa Claus, yang bernama asli Nicholas atau Nick, mempunyai masalah dengan Fred sehingga mereka tumbuh dengan kepribadian yang sangat berbeda. Nick melanjutkan kegiatannya berbagi kebahagiaan dengan menjadi Santa Claus, sedangkan Fred ingin membuka tempat perjudian dan membutuhkan dana $50.000. Berbagai kendala yang dihadapi Fred membuatnya mau tak mau membantu serunya pekerjaan Nick saat Natal dengan menjadi Santa Claus hingga luka persaudaraan di masa lalu akhirnya bisa terobati.

 

4. The Grinch (2018)


(The Grinch/Universal Pictures, 2018)

Film animasi bernuansa Natal yang tayang di awal November ini menceritakan tentang The Grinch (Benedict Cumberbatch), si makhluk hijau yang sangat membenci Natal. Bersama dengan peliharaannya, Max, The Grinch ingin menghancurkan hari Natal di Whoville, tempat seorang anak perempuan bernama Cindy Lou Who tinggal bersama ibunya yang sudah menjanda. Cindy mengira The Grinch adalah Santa Claus sehingga dia memohon pada The Grinch agar mau menolong ibunya. Petualangan The Grinch bersama Max yang ditemani Fred (seekor rusa tambun) pun menjadi terancam gagal.

 

3. The Polar Express (2004)


(The Polar Express/Warner Bros. Pictures, 2004)

Ini nih yang bikin kita flashback, pasalnya film yang dirilis pada Oktober 2004 ini sudah seringkali ditayangkan di layar kaca. Plot film ini mengisahkan seorang anak laki-laki yang menumpang sebuah kereta di malam Natal dan ternyata di dalam kereta ada korban pembunuhan, lalu ada seorang detektif yang mencurigai semua penumpang sebagai tersangka pembunuhan. Tunggu, tunggu, bukan itu deh plotnya. Film ini bercerita tentang seorang anak laki-laki yang mengharapkan sebuah lonceng sebagai hadiah Natal. Lalu dia dijemput oleh kereta yang akan membawanya ke Kutub Utara untuk bertemu Santa Claus, the moral key of the story is to believe in what you wish.

2. Love Actually (2003)


(Love Actually/Universal Pictures, 2003)

Adegan awal film ini menampilkan Daniel (Liam Neeson) yang kehilangan istrinya dan kini tinggal serumah dengan anaknya, Sam (Thomas Sangster), berusia 7 tahun yang tak begitu dikenalnya. Lalu kisah cinta seorang Perdana Menteri (Hugh Grant), yang baru dilantik bersama asisten barunya (Martine McCutcheon) serta delapan kisah cinta lainnya. Totalnya ada sembilan kisah cinta yang saling terhubung dengan satu sama lain, sweet banget deh pokoknya. Intinya, berbagai momen saat Natal bisa mengubah kita menjadi orang yang lebih baik selama kita memberikan kesempatan bagi momen tersebut untuk datang berkunjung, and love actually, is everywhere.

 

1. Elf (2003)


(Elf/New Line Cinema, 2003)

Urutan pertama diduduki oleh Elf, besutan sutradara Jon Favreau, yang juga memerankan karakter Happy di deretan film Marvel Cinematic Universe (MCU). Film yang dibintangi oleh Will Ferrell ini mengisahkan Buddy saat masih kecil yang dibawa oleh Santa Claus ke Kutub Utara lalu dirawat oleh elf. Saat beranjak dewasa, Buddy dikirim ke New York untuk mencari jati dirinya sebagai manusia. Buddy akhirnya bertemu dengan ayahnya, Walter Hobbs, di Empire State Building, namun dia diusir oleh satpam dan menerima ujaran sarkastik. Kenaifan dan kepolosan Buddy, serta tingkah kocaknya menjadi bumbu dalam plot film berdurasi 97 menit ini, and I told you, it’ll be really worth the watch!

Natal merupakan momen terbaik untuk berkumpul dengan keluarga bagi umat Kristiani. Tapi kalau ngomongin film, batasan agama, ras, etnis tentunya jangan sampai menjadi penghalang. Nah dari kelima judul film di atas, berapa film nih yang belum pernah kamu tonton? Selain rekomendasi di atas, cek juga yuk 5 Film Animasi Ter-Happening 2018 dan daftar 10 Film Ter-Happening 2018.

 

Tulisan ini sudah terbit di website HPNG Films pada 24 Desember 2018.
Ilustrasi cover artikel dibuat oleh Yashika Asmi.

 

TH

Fantastic Beasts: The Charms of Grindelwald

Bukan Grindelwald namanya jika dia dapat dipenjarakan semudah ending di Fantastic Beast and Where to Find Them (2016). Seperti yang terlihat di trailer, Grindelwald dapat berkeliaran seperti tak pernah dipenjarakan sebelumnya. Ya, dia bebas, namun tentunya dengan cara licik.

 

Seri kedua film Fantastic Beasts ini mengisahkan Newt Scamander yang ditugaskan oleh Dumbledore untuk menghentikan rencana Grindelwald mengumpulkan kembali para sekutunya demi mengambil alih kekuasaan terhadap dunia Muggle. Namun tak hanya itu, Grindelwald sekaligus ingin memanfaatkan kekuatan si Obscurial, Credence, untuk melancarkan aksinya.

 

Ibarat menyusun puzzle, J.K. Rowling tak henti-hentinya menyediakan potongan demi potongan cerita seputar wizarding world yang disusun dalam imajinasi para Potter Heads. Bagaimana tidak, ada begitu banyak karakter yang memancing bisikan dalam hati, “Oh ini dia orangnya.” Tak hanya kehadiran tokoh yang tak diduga, seperti Prof. Minerva McGonagall, tapi tentunya segelintir fantastic beasts baru akan memancing rasa gemas para penonton. Selain Nagini, si “Maledictus” dari Indonesia, ada juga Zouwu, si monster unyu dari Tiongkok!

 

Beberapa menit setelah film ditayangkan, mulai terlintas di pikiran, apa sih makna dari “The Crimes of Grindelwald.” No wonder, Grindelwald looks like one of the super villains in wizarding world since his first appearance in Fantastic Beasts and Where to Find Them, agree? Tapi tentunya, si penonton yang tidak membaca bukunya ini masih penasaran, seganas apa sih Grindelwald ini, hmm.

 

Well actually, he is, bahkan di menit-menit awal saja David Yates sudah menyuguhkan scene saat Grindelwald membajak kereta kuda yang akan membawanya ke Nurmengard. Ditambah adegan interaksinya dengan Queenie dan Credence, so tempting! Meskipun subjectively speaking, lawan bicara Grindelwald yang sebenarnya tahu dengan siapa mereka berbicara tetap mudah tergoda oleh kata-katanya, entah karena kondisi emosional atau keraguan besar yang menggumpal dalam hati mereka.

 

Let’s set aside the Grindelwald things, karena ada banyak hal lain yang tak kalah menarik perhatian, misalnya silsilah keluarga Lestrange yang turut menjadi salah satu plot penting, lalu (not a spoiler) diperkenalkannya nama “Aurelius Dumbledore”. If you haven’t watch the film yet, I suggest you not to google that name, it will be full of spoilers. Tidak lupa juga kelanjutan kisah Newt dan Tina yang dihiasi drama kesalahpahaman, tapi jangan khawatir, nggak bikin boring kok!

 

Selain plot cerita yang mengalir tak terduga, efek suara dan gambar yang powerful juga mempercantik film yang mendapat rating IMDb 8.2/10 (update: 7.0/10) ini, apalagi di momen yang bikin merinding saat mantra “Finite” diucapkan oleh beberapa tokoh utama. Ups, spoiler nggak tuh? Haha. Yang tak kalah penting, ada juga beberapa hubungan persaudaraan yang agak alot dan lebih complicated ketimbang cerita romansa. Misalnya, kalian akan tahu alasan Dumbledore nggak mau bertarung dengan Grindelwald.

 

Overall, ada tiga deskripsi yang cukup mewakili sequel kedua dari 5 seri Fantastic Beasts ini, “powerful,” “complicated brotherhood,” dan “lovely.” Sesuai dengan judul ulasan ini, daya tarik (charm) Grindelwald yang terlihat sepertinya menghasilkan plot Fantastic Beasts yang mirip dengan Avengers: Infinity War seri kedua, but with a pale white-haired Thanos. And pssst, this is a spoiler: Durasi filmnya kurang lama!

 

TH

 

(Tulisan ini sudah terbit di website HPNG Films pada 14 November 2018)

Dying with The Dying Girl

Greg, seorang siswa SMA yang tidak mempunyai banyak teman namun mempunyai hobi membuat parodi film klasik dengan cara (yang menurut saya) kreatif. Kehidupan Greg berubah setelah sebuah permintaan yang lebih seperti ancaman muncul dari Ibunya, yaitu untuk menjadi teman bagi Rachel, tetangga dan teman sekolahnya yang dikabarkan menderita Leukaemia.

Sebelum berteman dengan Rachel, Greg sudah mempunyai sahabat yang telah bersamanya sejak kecil, yakni Earl. Greg dan Earl seringkali mengunjungi ruangan Mr. McCarthy untuk menonton atau sekadar bermain game.

Sudut pandang film ini berasal dari Greg sendiri, yang menceritakan kehidupannya di sekolah, di mana dia tidak mempunyai banyak teman, lalu bagaimana dirinya menyukai teman sekolahnya, Madison, hingga pertemanannya dengan Earl dan Rachel.

Beberapa waktu setelah omelan Ibunya, Greg menyerah lalu mematuhi permintaan untuk mengunjungi rumah Rachel dan memberinya dukungan untuk melawan Leukaemia. Sama seperti menulis buku harian, Greg menghitung harinya sejak pertama kali dia datang ke rumah Rachel yang disebutnya sebagai “Doomed Friendship“, namun seiring berjalannya waktu, kecanggungan di antara mereka perlahan menghilang.

Suatu hari, Greg mengajak Earl ke rumah Rachel, lalu mereka bertiga keluar untuk membeli es krim. Earl menjelaskan pada Rachel bahwa Greg mempunyai trust issue sehingga dia tidak mempunyai teman, melainkan “co-worker“. Saya yang tadinya ikut bingung dengan sebutan “co-worker” akhirnya mengerti makna kata tersebut.

Beberapa minggu kemudian, Madison datang saat Greg dan Earl membuat parodi film, dia meminta agar mereka membuatkan film untuk Rachel, tentang segala hal favoritnya dan semacamnya. Meskipun Greg tidak setuju, tapi akhirnya mereka membuatnya juga.

Greg mengingatkan beberapa kali kepada penonton bahwa ini bukanlah film drama romantis, dan melalui narasinya, dia juga berjanji bahwa Rachel dapat bertahan dari penyakit kankernya, that’s a little bit spoiler I guess, namun tetap saja saya melanjutkan tayangan film ini.

Tak hanya berfokus pada penyakit Rachel, namun Greg dan Earl tetap produktif menciptakan parodi film, di mana penonton juga dapat melihat hasilnya dalam bentuk potongan adegan kocak, it was kinda fun, though.

Diperankan oleh Thomas Mann (Greg), RJ Cyler (Earl), dan Olivia Cooke (Rachel), menurut saya film ini cukup berhasil menciptakan vibe sederhana akan kehidupan seorang siswa dengan trust issue dan kreativitas membuat parodi film bersama sahabatnya serta mendukung perjuangan seorang teman yang menderita Leukaemia.

Pada dasarnya film bergenre drama komedi yang dirilis pada 2015 ini adalah cerita Greg mengenai kehidupannya yang ikutan ‘sekarat’ sejak dia mengenal seorang perempuan penderita kanker yang sedang sekarat (the dying girl), Rachel, juga tentang persababatan yang yang tak selamanya berjalan mulus, dan mengenai penerimaan jati diri. Tapi ingat, jangan mengharapkan adanya adegan romantis ya, karena sekali lagi, ini bukanlah film drama romantis.

Meskipun tidak sempat tayang di Indonesia, namun film ini cukup saya rekomendasikan untuk ditonton bersama keluarga atau sekadar untuk hiburan. Penilaian yang saya berikan adalah 7.5/10 untuk alur dan penceritaan Greg yang begitu kronologis, maklum saja, saya suka menjadi pendengar.

TH

Petualangan Gadis Kecil Menyelami Hidup Orang Dewasa

Oleh Tristin Hartono

Scout Finch menceritakan kisah hidupnya ketika ia berumur enam tahun, ketika Dill Harris datang ke kehidupannya dan kakak laki-lakinya, Jem Finch. Dill adalah keponakan Miss Rachel, yang tinggal tidak jauh dari kediaman mereka di Maycomb County. Hidupnya berubah setelah Dill harus kembali ke rumahnya di Meridian.

Scout yang masih anak-anak mulai memiliki rasa ingin tahu yang besar tentang kehidupan manusia di sekitarnya. Novel ini mengambil setting waktu di tahun 1930-an, ketika perbedaan warna kulit di Amerika masih sangat kentara. Setiap orang berkulit hitam dianggap pantas menerima hukuman gantung meski tanpa proses pengadilan.

Atticus Finch, ayah Scout dan Jem yang bekerja sebagai seorang pengacara saat itu dengan berani memilih untuk membela seorang kulit hitam yang juga budak bernama Tom Robinson dalam sebuah pengadilan dengan kasus pemerkosaan terhadap wanita berkulit putih.

Scout yang dengan polosnya selalu menanyakan hal yang ingin diketahuinya tidak setuju dengan hasil pengadilan yang masih menyatakan Tom Robinson sebagai orang bersalah. Namun apa yang bisa dilakukan seorang anak perempuan berumur tujuh tahun terhadap keputusan pengadilan yang didominasi oleh orang kulit putih?

Dalam kutipan “Kau tidak akan pernah bisa memahami seseorang hingga kau melihat segala sesuatu dari sudut pandangnya … hingga kau menyusup ke balik kulitnya dan menjalani hidup dengan caranya,” Harper Lee mengajak pembaca melihat kehidupan orang dewasa yang selalu berprasangka antara satu sama lain melalui sudut pandang Scout.

To Kill A Mockingbird sempat memenangkan piala Pulitzer di tahun 1961. Novel yang mengguncang khazanah sastra dunia ini sudah terjual hingga 40 juta kopi di seluruh dunia, dan menurut Library Journal, To Kill A Mockingbird adalah “Novel Terbaik Abad Ke-20”.

Setelah sukses dengan To Kill A Mockingbird, Harper Lee kembali menerbitkan karyanya yang hilang selama 60 tahun, Go Set A Watchman, novel yang menginspirasi lahirnya mahakarya To Kill A Mockingbird yang mengantarkannya pada penganugerahan Presidential Medal of Freedom 2007, The Highest Civilian Honor USA.

 

Judul buku: To Kill A Mockingbird

Pengarang: Harper Lee

Penerbit: Qanita

Cetakan: 1, September 2015

Tebal buku: 396 halaman

 

(Tulisan ini telah diterbitkan di rubrik “Resensi” Majalah What’s Up! volume 7 no. 2 Agustus 2017)

Sumber gambar: Carousell

Menangkap Makna dalam The Catcher in The Rye

Julukan “The Coward Sarcastic” atau “Si Sarkastik yang Penakut” saya rasa dapat menggambarkan karakter utama dalam novel ini. Holden Caufield namanya, seorang remaja 16 tahun yang sudah bosan dengan kehidupannya di sekolah asrama khusus laki-laki daerah Agerstown, Pennsylvania, yaitu Pencey Prep.

 

Cerita ini mengisahkan seorang anak lelaki dalam mencari jati dirinya. Pandangan skeptisnya terhadap kemunafikan orang-orang di sekitarnya membuat dia muak dengan segala yang dialaminya selama ini. Tak jarang, Holden terlibat dalam perkelahian yang sebenarnya bisa dihindari.

 

Menggunakan sudut pandang orang pertama, sang penulis kontroversial, J.D. Salinger, berhasil membuat karakter Holden hidup melalui percakapan dan gerutu Holden. Bagaimana tidak, karakter Holden setidaknya berhasil ‘menyihir’ Mark David Chapman, si pelaku penembak mati John Lennon pada Desember 1980.

 

Dampak gerutu kasar dan sifat tak pedulinya Holden membuat buku ini berkali-kali dilarang beredar di beberapa sekolah di Amerika Serikat (AS) sejak 1962. Berbagai alasan dilontarkan institusi yang melarang beredarnya buku ini, mulai dari perkataan kasar (F-words), adegan sensual, hingga penyalahgunaan minuman keras oleh anak di bawah umur.

 

Namun, tidak sedikit juga lembaga pendidikan yang mengakui bahwa The Catcher in the Rye merupakan salah satu literatur penting Amerika sehingga mereka mewajibkan para siswa untuk membaca buku tersebut sebagai tugas sekolah.

 

Kini giliran pengalaman saya dengan The Catcher in the Rye dan Holden yang akan saya tuangkan dalam postingan ini. Sejak pertama kali dibeli sekitar lima tahun lalu, tepatnya ketika saya akan duduk di bangku SMA, perasaan saya tak pernah berubah terhadap cover buku terbitan Banana Publisher ini.

 

The Catcher in the Rye (Banana Publisher 2005) (P.s.: I took the photo myself)

Seperti tampak pada gambar di atas, “Novel Amarah Anak Muda” merupakan kalimat yang terpampang di selimut buku dan tampilan sesosok anak lelaki (berwajah mengesalkan) dengan ekspresi kesal disertai api membara di atas kepalanya. Namun setelahnya saya berpikir, toh, yang saya butuhkan adalah isinya. Rasa penasaran pun sudah menggerayangi saya, mengalahkan perasaan illfeel saat melihat cover buku.

 

Bertajuk sama dengan bahasa aslinya (Inggris), The Catcher in the Rye terbitan tahun 2005 ini dicetak dengan bahasa semi-formal. Saya menyebutnya semi-formal karena mengandung beberapa kalimat baku khas novel terjemahan, ditambah beberapa kalimat sumpah serapah tidak sesuai Ejaan Bahasa Indonesia (EBI).

 

Saat pertama kali membaca buku ini pada 2013 lalu, saya sangat tidak menyukai Holden, anak yang dikeluarkan dari sekolah, suka berbohong demi kesenangan, bahkan berbicara kasar seenaknya hingga dihantam temannya sendiri sampai lebam dan berdarah, and I was like, “Apa-apaan, sih, nih anak.

 

Namun saat saya menonton film biografi J.D. Salinger dalam Rebel in the Rye (2015) beberapa hari lalu, saya kembali penasaran dan membaca ulang novel ini dari awal hingga akhir tanpa melewatkan satu kalimat pun. Hasilnya, saya merasa adanya perbedaan perasaan saya terhadap Holden Caulfield dibanding saat pertama kali membaca.

 

Well, tak bisa dipungkiri memang, terdapat begitu banyak kata kasar terlontar. Saya pun menyadari bahwa meskipun saya baca ratusan kali, setiap kata dalam buku ini tidak akan berubah. Tapi, ada beberapa cara pandang saya yang berubah terhadap Holden. Jika dulu saya menganggap dia mengesalkan, kini saya menyadari bahwa Holden is such a loving guy (saya menggunakan bahasa Inggris, sebab agak janggal jika diterjemahkan ke bahasa Indonesia).

 

Bagaimana dia sebenarnya menyayangi Sally Hayes namun tak dapat mengungkapkannya, dan bagaimana adiknya, Phoebe, bisa begitu menyayangi kakak yang sudah empat kali dikeluarkan dari sekolah ini membuat hati saya sedikit luluh, ditambah lagi dengan serangkaian kalimat lucu nan polos yang dilontarkan Holden, salah satunya adalah pertanyaan tentang “Ke mana para bebek di danau Central Park pergi saat musim dingin?”

 

Membaca novel ini rasanya seperti mendengarkan Holden menceritakan semua curahan hatinya tanpa harus memberikan banyak komentar —hanya respon dalam bentuk senyum lebar dan tawa akibat celetukan kocaknya. Sampai akhirnya, saya baru menyadari bahwa Holden adalah sesosok remaja dengan mimpi sederhana namun disertai pemikiran kompleks.

 

Another fact, agak sulit jika Anda tidak tertarik membaca buku namun ingin mengetahui kisah Holden, sebab, Anda tidak akan menemukan film yang menceritakan petualangan Holden sejak dia keluar dari Pencey Prep, membeli topi berburu, hingga menyelinap ke rumahnya sendiri demi bertemu adik kandungnya ini. Sang penulis, J.D. Salinger, tidak mau menjual hak cipta The Catcher in the Rye untuk dijadikan film. Sama seperti pernyataan Holden, “If there’s one thing I hate, it’s the movies.

 

Meskipun sang penulis yang telah menghabiskan sisa hidupnya dengan mengasingkan diri di New Hampshire ini sudah tutup usia sejak delapan tahun lalu, namun Holden akan tetap hidup di setiap imajinasi pembaca yang pernah “berkenalan” dengannya. Saya memberi nilai 9/10 atas kesederhanaan, kegamblangan celetukan Holden, dan apresiasi terhadap komitmen yang dipilih J.D. Salinger untuk tidak mempublikasikan (bahkan) satu hasil karya lagi hingga akhir hidupnya.

TH

Rebel in the Rye: A Figure Who Brought Holden Caulfield to Life

The first time I read The Catcher in The Rye is when I was 16. It was one of the first novels I’ve read. Not one of my favorite, tbh.

 

So I live in Indonesia and my school didn’t train us to make reading as a habit, it’s a kinda common thing here, then I’d never know about the novel from anywhere at school, until the day where a singer-songwriter, Greyson Chance, mentioned it in one of his tweet.

 

Long story short, the curious nerd younger self of me tried to look for that book, and voila, I got it. Since then, I could never forget the writer’s name (J.D. Salinger) and the fact that this book I read was first published in 1951, including the other fact that the writer has passed away 3 years before I read the book (so sad).

 

In 2018, my YouTube account suggested a movie trailer that seems familiar to me, “Rebel in The Rye”, starred by the actor I know, Nicholas Hoult. I immediately clicked the video and didn’t get disappointed, because I finally got the chance to learn more about the writer!

 

I still don’t really get why am I so curious with the life of a writer, philosopher, or scientist (like Marie Curie for instance). It’s been my own hidden curiosity (the one I’d never tell anyone) since I was in junior school.

 

Let’s get back to the topic. The film was released in 2017, the story line is basically about Jerome David Salinger (Jerry Salinger), a young, not really smart, and sarcastic kid who didn’t want to be a “King of Bacon” as his father wished him to. He wants to be a writer and took a creative writing major in Columbia University.

 

[WARNING!!! This post contains a spoiler, but the film still worth the watch. I didn’t spoil much.]

 

He met a lecturer which soon will be his mentor, Whit Burnett. After that meeting at the café, young Jerry started to learn a lot of things about writing. Not only him, but also the audiences as well, we can also learn to write a story that could bring up some feelings on the readers mind. As the story goes, we can understand how hard it was to publish a book in that age, how Jerry respects his privacy a lot, and more because of the trauma he had when he was a soldier in World War II.

 

As a biography film, we’ll find a lot of Jerry’s life stories, like when he got rejected by the publishers for multiple times, then almost got published right when the war has just started, or when his girlfriend, Oona O’Neil, dumped him by marrying an old man.

 

Whit once said to him,

“Are you willing to devote your life to telling the stories, knowing that you may get nothing in return? And if the answer is no, well, then you should go out there and find yourself something else to do with your life because you are not a true writer,”

which got him thinking about his willing (and mine) to write. It all then finally comes to the point where his novel about a grumpy sarcastic boy, The Catcher in the Rye, was booming and so much more famous than what he imagined this whole time.

 

Jerry felt overwhelmed, he don’t want a fame, all he wants is to write and write and write, so he looked for peacefulness by moving from New York City to live in Cornish, New Hampshire to have a new life and meditate, which he learned from a Buddhist Zen monk. He was married and had two children, but he stayed in a small hut near their house to write, and never published even one of his writings until the end of his life.

Nicholas Hoult as J.D. Salinger in Rebel in the Rye

Despite of the real story of J.D. Salinger, I also want to appreciate how Nicholas Hoult could bring the character alive. I don’t know J.D. Salinger, like how he speaks, think, or gesture, but through Hoult’s acts along the film, I can feel all the nervous and awkwardness when Jerry met Oona, desperation when he was at war, even the struggle moments he had, Hoult expresses it all through his eyes and mimic.

 

And then I was wondering about the 6.6/10 rate from IMDb, I mean, it’s a TOTALLY UNDERRATED MOVIE! Because I’m gonna put 8.5/10 for the story line, cinematography, vibe, and the acts.

 

p.s.: the cover photo credit goes to this website

TH

Bertualang di Kota Kembang [Bagian 2]

[Bagian 1-nya ada di sini]

 

Setelah melewati Tugu Titik Nol Kilometer Bandung, muncul pertanyaan “Mau ke mana lagi nih kita?” dari Stella. Saya yang agak bingung untuk memutuskan akhirnya mengajak Stella untuk bersama-sama mencari tempat tujuan lain hingga Museum Konferensi Asia Afrika (KAA) menjadi tujuan selanjutnya. Pintu masuk yang kecil membuat kami agak ragu untuk masuk, karena masih ada pintu lain mengarah ke Gedung Merdeka yang tertutup rapat oleh pagar besi.

 

Namun, papan pengumuman yang menyatakan bahwa hari itu Museum KAA buka meyakinkan kami untuk masuk dan mendorong pintu. “Tok tok,” celetuk saya, yang disambut oleh penjaga pintu museum dengan senyuman. Ternyata pengunjung tidak perlu membayar sepeser pun untuk menikmati museum yang menerima penghargaan sebagai Museum Paling Menyenangkan tahun 2015 ini.

 

Beragam hasil dokumentasi Konferensi Asia Afrika yang dihelat pada 1955 lalu membuat saya terkagum dengan pencapaian yang pernah dilakukan Bung Karno dan Bung Hatta saat mereka masih menjabat sebagai presiden dan wakil presiden Indonesia. Bagaimana tidak, PM Indonesia, Ali Sastroamidjojo, berhasil mengumpulkan perwakilan dari 29 negara untuk bertemu di Bandung demi mendiskusikan perdamaian dunia.

 

Namun, saya masih agak menyayangkan perilaku pengunjung yang tidak dapat menghormati museum ini. Ketika saya berkunjung, segerombolan anak remaja 13-16 tahun berjumlah 8-10 orang memainkan layar sentuh yang mungkin berisi video pendek rapat KAA, lalu mereka duduk di salah satu kursi aula KAA sembari menaikkan kaki ke senderan kursi di depannya. Kasus lain, tombol untuk memutar pidato pembukaan KAA oleh Bung Karno tidak dapat dimainkan, sayang sekali.

 

Sepulang dari Jalan Braga, Lapangan Gasibu di Jalan Diponegoro adalah tujuan kami selanjutnya. Saat sampai di sana, Stella menjelaskan bahwa dosennya merupakan salah satu desainer lapangan ini. Kunjungan ke Lapangan Gasibu terasa seperti tur bagi saya, karena Stella menjelaskan cukup banyak hal mengenai konstruksi lapangan seluas kurang lebih 6000 m2 tersebut.

Lapangan Gasibu dan Gedung Sate di kejauhan.

 

Kami menghabiskan cukup banyak waktu untuk memilih destinasi selanjutnya hingga waktu menunjukkan saatnya makan malam, di mana Warung Kopi Purnama yang terletak di Jalan Alkateri, Braga menjadi pilihan. Tempat ini menjadi salah satu rekomendasi tempat makan di Bandung, tidak heran, selain sejarah yang dimiliki, Nasi Goreng Purnama yang dibanderol dengan harga Rp30 ribu pun mampu memanjakan lidah. Di sinilah “deep talk” kembali dimulai, bahkan setelah Warung Kopi Purnama tutup, percakapan kami masih berlanjut.

 

Ditemani Stefan, kami bertolak ke Warkop Gemboel Mini (Gemini) yang terkenal sebagai “Warkop yang tidak akan pernah tutup kecuali kiamat” hingga waktu menunjukkan hampir pukul 12 malam dan kami harus kembali ke indekos Stella.

 

Sesampainya di indekos, kami yang sudah berjanji untuk menonton film bersama tetap melaksanakan perjanjian tersebut. Setelah memilih beberapa film, Forrest Gump menjadi pilihan, well, I’ll never regret that choice, karena saya kerap mengingatkan diri sendiri bahwa film tersebut diproduksi di tahun 1994 akibat plot dan pengambilan gambar, serta akting Tom Hanks yang terlihat sangat mengesankan (9/10 dari saya).

 

Di hari terakhir perjalanan ini, saya, Stella, dan Stefan akan kembali ke Jakarta menaiki kereta tujuan Gambir pukul tujuh malam nanti. Kami mengawali hari ini dengan menyantap daging sapi di Se’i Sapi Lamalera yang terletak di kawasan Lebakgede, Coblong, dengan harga terjangkau, misalnya se’i sapi sambal matah yang saya pesan ini hanya dibanderol Rp25 ribu saja! Setelah itu, saya mengajak mereka untuk menonton Deadpool di Ciwalk (akhirnya dapat tiket nonton dari kota lain selain Jakarta!).

Se’i Sapi Sambal Matah, Yum!

 

Waktu kurang lebih menunjukkan pukul setengah lima sore ketika saya dan Stella sampai di indekos. Kami berkemas lalu kembali bertemu dengan Stefan yang sudah menunggu di ujung gang. Saat kami sampai di stasiun, ternyata masih ada waktu untuk santap malam yang akhirnya kami gunakan untuk menyantap sajian dari Hokben.

 

Kereta meluncur sekitar pukul 7:30, melesat melampaui ruang dan waktu hingga menyisakan Bandung dalam ingatan kami, saya hanya dapat menyatakan dalam ingatan bahwa Jalan Ir. H. Djuanda yang dihiasi tiang lampu hijau gelap dan bunga (kembang) merah baru saja menjadi jalanan favorit saya di Bandung.

 

Meski hanya tiga hari, namun waktu yang telah kami jalani tak akan bisa diambil kembali, lalu saya teringat ujaran Pidi Baiq yang dipajang di terowongan Jalan Asia Afrika, “Dan Bandung bagiku bukan cuma masalah geografis, lebih jauh dari itu melibatkan perasaan, yang bersamaku ketika sunyi.

sumber foto: klik pada gambar

 

TH

Bertualang di Kota Kembang [Bagian 1]

Sugar glider bernama Bubble itu sedang tidur ketika saya datang. “Oh ini Stel yang nanti mau lo titipin ke gue?, “Iya, Tin,” ujar Stella, yang hingga saat ini merupakan satu-satunya teman bertualang dan orang yang saya percayai untuk diajak “deep talking”.

 

Demi menempuh pendidikan arsitekturnya, Stella tinggal di Bandung sejak 3 tahun lalu. Ini adalah kesempatan pertama saya untuk benar-benar mengunjunginya, selain sebagai momen refreshing setelah menghadapi UAS, namun juga untuk menjalankan salah satu kebiasaan yang sudah kami lakukan sejak dulu, bepergian bersama.

 

Hari pertama dihabiskan dengan menonton salah satu episode dari serial Inggris bertajuk Black Mirror, lalu pada malam harinya, kami menghabiskan waktu menyantap daging non halal di Sudirman Street bersama dengan dua teman Stella, yakni Stefan dan Hafiz.

 

Esok harinya, kami memulai aktivitas dengan menghadiri perayaan Misa (Katolik) di Gereja St. Laurentius di kawasan Gegerkalong, Sukasari. Ibadah yang khusyuk dan tenang ini menghiasi pengalaman pertama saya menghadiri Misa hingga saya terheran, manusia macam apa yang tega meledakkan bom di tengah ibadah seperti ini.

 

Perjalanan dilanjutkan dengan mengunjungi area pejalan kaki yang cukup terkenal di Bandung, Braga Citywalk atau Jalan Braga. Sebelum memulai kegiatan berjalan secara harfiah ini, kami menyiapkan amunisi berupa Ayam Asap Sambal Matah dari Warung de Harmony dan Es Kopi Awan dari Kopi Toko Djawa, serta seperangkat alat foto seadanya, yakni dua iPhone dan satu Xiaomi Note 4X.

Ayam Asap Sambal Matah dari Warung de Harmony, yum!

 

Pedagang lukisan berjejer di sepanjang Jalan Braga, menjajakan hasil karya visual dengan model gambar yang saling menyerupai, yakni pemandangan laut, sawah, gunung, atau hewan dan tumbuhan seperti ikan dan bunga. Di sanalah kami turut melukis kenangan dengan memotret hampir setiap hal yang tampak, didukung dengan tinta alami, yaitu cahaya matahari.

 

Gedung Kantor Cabang Pusat Bank BJB di Jalan Braga

Di sela-sela tur pendek ini, Stella berujar, “Model gedung ini (Kantor Pusat Bank BJB) namanya Art Deco, karena ada tembok tebal buat pemisah antarlantainya. Nanti di depan sana ada hotel namanya Savoy Homann, di situ ada menara yang mirip kayak gedung ini. Dulu, tempat itu dipake orang-orang Belanda buat mata-matain musuh, kalo ada orang Indonesia yang mau nyerang, bisa langsung ditembak dari sana,” lalu saya merasa agak ngeri namun kagum membayangkan strategi mereka.

 

(Lanjut ke Bagian 2)