Apa Itu Parvovirus Anjing dan Kucing, Tips, dan Penanganannya (Sekalian Curhat!)

The wind blistered that night, danced with the the rain that fell so hard. I’d never feel so much colder than seeing you laying weak on the floor, with your heart that beat so slow, and your whimpers that sound so low. But then, you choose to leave at that dawn.

I thought you left, for us to welcome a new family friend, but no. You left and you only leave this heart broken.

to Nyx

I dedicate this article to Artenyx, Kyoto, and Polly, for their strengths facing this deadly virus. Spoiler alert: Artenyx (Nyx) and Polly is now deceased because of parvovirus. You can see the photo gallery below this article.

Hai Nyx, maaf ya it took me a long time to write this. Liat foto dan video lu aja masih bikin gua mellow. Well, well, nulis sepotong begini aja udah berkaca-kaca, apalagi harus balik to reopen the wound, hehe. Tapi gapapa ya, kita sama-sama jadi berkat supaya nggak ada korban lain yang harus kehilangan nyawa kayak lu karena virus parvo ini.


Hi there, artikel ini dibuat untuk ngasih tau kamu apa itu parvovirus (singkat aja lah ya), beberapa detail seperti cara menular, gejala, masa inkubasi, dan tips menangani virus parvo. Sharing ini aku buat berdasarkan pengalamanku merawat dan menyaksikan 9 ekor anjing yang terkena parvovirus di Juli-Agustus 2022.

Disclaimer, aku bukan dokter, ahli, atau praktisi kesehatan hewan, jadi kalau anjing/kucing (anabul) kamu terjangkit parvovirus, jangan lanjut gugling, tapi langsung dibawa ke dokter hewan, ya! Pembahasanku ini hanya sebagai tips, wawasan tambahan, dan sharing dari pet owner yang anabulnya pernah ngalamin parvo. Jadi, semoga bermanfaat, selamat membaca!

Parvovirus, apa tuh?

Virus parvo, atau nama lengkapnya Canine parvovirus, adalah virus yang menyerang pencernaan. Gejala awalnya mirip banget dengan maag biasa, makanya banyak pet owner yang lengah saat anabulnya kena virus parvo. Selain anjing, kucing juga bisa kena virus parvo, makanya di sini akan aku sebut dengan anak bulu (anabul).

Parvovirus seringkali menyerang anjing dan kucing, terutama yang masih bayi (puppies/kittens), yang ironisnya, bayi hewan usia segitu (<3 bulan) belum boleh divaksin. Cara penularannya pun super gampang. Mirip seperti coronavirus, parvovirus menular melalui udara dari kotoran dan muntah anjing yang terinfeksi parvo. Makanya, buat pet owners yang anabulnya masih bayik, harus super hati-hati, ya, plis! Kalau anabulnya udah mencapai 3 bulan, sebaiknya langsung vaksin!

Masa inkubasi parvovirus adalah 14 hari (mirip covid juga, ‘kan?). Gejalanya muncul setelah 7-10 hari setelah terinfeksi virus, jadi nggak langsung ketauan. Jahat, ya. Menurut dokterku yang pertama (aku pakai 2 dokter), highest peak atau penentuan anabul akan survive atau nggak, ada di hari ke-6 setelah muncul gejala. Katanya, kalau di hari ke-6 anabulnya survive, hari ke 7, 8, dan seterusnya dia udah bisa mulai pulih.

Gejala Awal Banget

Untuk ngecek gejala parvo, ada 3 kasus yang aku perhatikan dan bisa kamu pelajari juga:

  • Gejala nggak kedeteksi yang pertama berawal dari Polly, di hari pertama gejalanya muncul, dia nggak mau makan (malam). Pas subuh, dia muntah busa padat (karena dehidrasi). Siang-sore lemas, nggak mau minum, nggak mau makan.
  • Selang 4 hari setelah muncul gejala di Polly, Kyoto muntah, lemas, dan nggak mau makan/minum. Kemudian, dia langsung dibawa ke dokter untuk dites parvo, positif.
  • Setelah tau Kyo positif, Nyx juga dites dan positif, bahkan hasil tesnya lebih jelas terlihat, meskipun dia masih lincah banget sampai malam itu. Jadi, Nyx nggak muncul gejala di hari pertama.

Kesimpulan dari 3 kasus ini, gejala awal parvo yang aku tau adalah nggak nafsu makan/minum, muntah terus menerus, lemas. Dalam beberapa kasus, mungkin si anabul udah terinfeksi, tapi gejalanya belum muncul (seperti Nyx). Jadi, meski nggak ada gejala, ada baiknya tetap dites kalau kamu tau anabulmu main dengan anabul lain yang udah positif parvo.

GEJALA SELANJUTNYA

Namanya juga virus, dia akan menyerang dan menghancurkan sistem kekebalan tubuh sebisa mungkin. Makanya, hampir nggak mungkin anabul nggak memiliki gejala saat terkena virus parvo.

Gejala awal tadi akan tetap ada, kemudian anabul akan terus lemas, muntah, bahkan diare. Tapi, nggak semua gejala akan muncul di semua anabul ya, karena Nyx mengalami diare sedangkan Kyo nggak. Mereka akan lemas dan terus tidur, perutnya berubah jadi cekung, tulangnya kelihatan semua. Awalnya, aku takut Kyoto nggak selamat, karena dia kurus banget.

Semakin lama, mencretnya akan disertai dengan darah dan sangat berbau amis. Kalau anabul selamat, dia akan berhasil melewati proses ini. Tapi kalau nggak, kasusnya bisa mirip dengan Nyx, yaitu kejang-kejang. Jika ini udah terjadi, mohon maaf banget, tapi sebaiknya kamu harus mulai belajar untuk merelakan anabul.

PENANGANAN PARVOVIRUS

Kalau gitu, setelah positif, selanjutnya apa yang dilakukan?

1. Nggak usah banyak mikir, langsung bawa ke dokter!

Kalau anabul udah lemes tapi dia nggak mau minum apalagi makan, jangan tunggu dehidrasi ya, coba deh tes ke dokter. Kalau positif tapi nggak dehidrasi, biasanya dokter akan langsung infus karena nadinya masih segar. Tapi, kalau positif dan udah dehidrasi, dokter akan berikan infus di punuk, karena biasanya nadi anabul udah collapsed/kering, ini yang terjadi di Polly.

Infus yang dikasih dari dokter adalah Ringer Lactate, dengan kecepatan 5 detik per tetes. Tetesannya nggak boleh terlalu cepet ya, karena nanti bisa banjir hingga ke paru-paru. Kalau infusnya udah abis, bisa dicari di toko obat terdekat, kok. Aku beli di K24.

Selanjutnya, dokter akan menyarankan obat antibiotik/antivirus dan obat untuk meredakan gejala parvo, misalnya obat anti muntah. Menurutku, udah nggak perlu nambah obat terlalu banyak, yang penting 2 obat utama ini (antibiotik dan anti muntah) udah berhasil masuk ke tubuh anabul.

2. Tetap kasih makan donggg!

Ringer lactate mengandung vitamin dan energi yang diperlukan tubuh anabul. Tapi, karena yang diserang adalah pencernaan, kita harus tetap hati-hati dengan apa yang dimasukkan di tubuh anabul. Beli makanan berlabel Gastrointestinal, ada yang untuk anak anjing, anjing dewasa, anak kucing, dan kucing dewasa. Ada versi kering dan basah, sebaiknya beli yang basah, karena anabul akan mual kalau ngunyah makanan, so dry food is a no.

Gastrointestinal yang kubeli untuk Nyx dan Kyo (paling kiri)

Oh iya, karena anabul lagi nggak bisa ngunyah makanan, jadi harus kita “suapin”, tapi plis jangan bayangin makan pakai sendok, karena maksudnya adalah dicekokin atau force feeding.

3. Nggak mau minum? Semprot!!!

Air berperan penting untuk metabolisme tubuh. Makanya, saat anabul nggak mau minum, harus ada spuit (syringe/suntikan tanpa jarum) tersedia untuk semprotin air ke mulut anabul. Jangan terlalu banyak ya, takut muntah, jadi 3-5 mL juga udah cukup. Dosisnya boleh ditambah secara berkala kalau pas kalian coba tambahin dosis minuman, anabul nggak muntah.

Alat Suntik (Spuit atau Syringe) - Mai-Melajah Alat Medis
Contoh spuit 1 mL

Selain buat minum air putih, spuit juga penting jadi persediaan untuk ngasih makanan (force feeding), minum obat anti muntah, dan antibiotik. Tergantung berapa cc atau mL yang kamu beli (aku punya yang 1 mL untuk obat dan air, 3 mL untuk air, dan 5 mL untuk makanan).

4. Kasih obat dong

Sampai di sini, mungkin udah ada yang penasaran, apa aja obat untuk parvo. Sayangnya, belum ada obat yang benar-benar menyembuhkan virus parvo (Let alone obat parvovirusnya anabul, obat buat Covid aja belum ada, ‘kan?). Jadi, solusinya adalah pemberian antibiotik dan anti muntah.

Nah, saat kasih makan obat, biasa prosesnya seperti ini:

  1. Anti muntah sesuai takaran berat badan.
  2. Setelah 20 menit nggak muntah, kasih makan secukupnya. Nggak perlu terlalu banyak, tapi nggak boleh terlalu sedikit juga… karena kalau laper, nanti malah jadi maag 🙁
  3. Setelah 20-30 menit nggak muntah, kasih minum antibiotik sesuai takaran juga.

Tapi, kalau muntah?

  1. Kalau masih muntah, artinya virusnya masih kuat, jadi harus lebih hati-hati.
  2. Setelah muntah, jangan lupa kasih minum sedikit. Lalu, 10-20 menit kemudian kasih lagi anti muntah.
  3. Kurangin porsi makannya.
  4. Jangan dipaksa kasih antibiotik ya kalau perutnya masih kosong atau baru selesai muntah.

Ingat ya, mereka nggak bisa konsumsi obat sendiri, jadi untuk pemberian obat, kamu bisa belajar dari sini:

Cara Memberi Obat untuk Anjing

BTW, ada beberapa obat yang kubeli untuk Nyx dan Kyo, tapi sebaiknya daftar obat ini jangan ditiru. Di dokter pertama, mereka dikasih obat-obatan dosis ringan untuk ✨manusia✨, misalnya Inpepsa (anti muntah), Imboost anak-anak, Clavamox (antibiotik) untuk ✨manusia✨, suplemen Transfer Factor (TF), bahkan disaranin pake Pien Tze Huang. Hadehhhhhhh…..

Mau sekalian sharing, kalau kamu ketemu dokter dan ngasih beberapa resep di atas (apalagi nulis resepnya sembari lihat dari HP), you better find another doctor! Karena, obat-obatan ini dosisnya rendah, nggak kuat melawan atau menahan gejala virus anabul yang muncul. Alhasil, dokternya akan menyarankan anabul untuk suntik di klinik/RS, yang sekali suntik (sepengalamanku), bisa 350 ribuan untuk 2 anabul. Padahal, obat suntiknya pun masih nggak mempan. Another hadehhhhhhh…..

The next bad thing is, sehari harus 2x suntik, bayangin deh, kira-kira berapa banyak biaya hanya untuk ke dokter? Belum termasuk makanan, infus, pee & poo pad, obat-obatan di luar ini, suplemen. Awalnya kupikir worth it. Tapi ternyata, kedua anjingku sebenarnya saat itu nggak ada perkembangan dan terus melemah, terutama jantungnya, dan pembuluh darah udah bolong-bolong dijebol infus yang dipasang ulang hampir tiap kali visit.

Sampai akhirnya, di hari ke 5 (lumayan telat), mereka kubawa ke klinik hewan di Tangerang yang disarankan teman. Dokternya ternyata lumayan paham soal penanganan parvo dan dia super tenang, berkebalikan banget dengan dokter pertama. Bahkan, anti muntah yang disuntik ke Kyo mampu bertahan sampai hampir 24 jam, dan dia akhirnya bisa tidur pulas dan istirahat setelah itu. Well, hasil Kyo memang agak beda dengan Nyx yang ekornya sempat berkibas setelah keluar dari ruang dokter, tapi kemudian langsung drop malam harinya.

Aku nggak di-endrose untuk ini ya, toh aku bukan influencer. Tapi, kalau kamu ada di sekitar Tangerang, segera bawa anabulmu Klinik Sahabat Hewan di daerah Sangiang, Tangerang dengan drh Dafi. Selanjutnya, boleh cari tau sendiri yaaa~

Kenapa aku menyarankan dokter yang nggak di daerah Jakarta? Padahal, ‘kan ada dokter hewan terkenal di daerah Cideng? Nope. Mereka sempat hopeless lihat 3 puppies lain yang terinfeksi parvovirus dan mereka bilang bahwa jangan menaruh harapan terlalu besar ke puppies yang kena parvo. That’s kinda true, tapi nggak boleh kehilangan semangat dan harapan, dong? Nyatanya, ketiga puppies itu usianya udah 4 bulan saat artikel ini ditulis dan udah lincah lagi sekarang, karena mereka dibawa ke Klinik Sahabat Hewan :”)

OBAT UNTUK PARVOVIRUS

Kalau gitu, terlepas dari daftar obat nggak beres tadi, apa aja obat yang akhirnya dikonsumsi Nyx dan Kyo? Tapi, sebagai catatan, Nyx nggak sempat konsumsi banyak dari obat ini ya, karena dia udah terlanjur drop saat obat ini dibeli. 

Obat (ampuh) yang akhirnya dikonsumsi Kyo (dan Nyx) di hari ke-5, yaitu Vometa (obat anti muntah untuk manusia) dan Clavamox (khusus kucing dan anjing). Keduanya masing-masing punya takaran sesuai berat badan. Jadi, jangan coba-coba beli dan hitung sendiri, ya. Soalnya, saat itu Clavamox untuk Nyx 0,6 mL dan Kyo 0,45 mL, padahal berat badan mereka nggak terlalu jauh, jadi memang sedetail itu dosisnya.

Sayangnya, saat dibawa ke dokter sekali lagi, Nyx kejang-kejang. Itu artinya, sebenarnya udah nggak ada harapan lagi buat Nyx, karena otaknya udah diserang virus. Tapi, dokter hewan di Tangerang ini masih nggak mau melangkahi takdir, jadi dia mengajari penanganan jika Nyx kejang-kejang lagi. Sedih, tapi terharu.

FLUSHING INFUS?

Ada beberapa hal yang mau nggak mau kupelajari saat mengurus mereka berdua, misalnya cara memberi makan anjing dengan force feeding, cara memberi minum saat anjing nggak mau minum, bahkan cara memberi obat (yang syukurnya semua dalam bentuk cairan) oral. Selain itu, aku juga harus bisa melakukan flushing infus.

It took me some times to finally do it, mungkin 1-2 hari setelah diajarin, aku memberanikan diri untuk flush infus, karena tuntutan situasi. Flush perlu dilakukan saat infus macet, karena itu artinya ada darah yang menggumpal dan menyangkut di selang infus sehingga mampet, and that’s not good. Soalnya, saat infus distop dan mereka masih sering muntah, nggak ada energi yang cukup untuk diserap anabul, terus mereka bisa dapat stamina dan energi dari mana?

Jadi, kalau anabulmu udah diinfus, sebaiknya minta dokter untuk ajarin kamu cara flushing infus. Nyx dan Kyo nggak full infus di 3 hari pertama, and that was so wrong!

Tapi, saat belajar flushing harus tetap hati-hati dan penuh tanggung jawab, ya!

Kurang lebih, seperti ini flushing yang dilakukan saat infus macet. Harus super hati-hati!

Kesimpulan

Akhirnya, Artenyx, who’s been having emotional and unexplainably magical bond with me in the last 3 years, berpulang di hari ke-6 perjuangannya. Kyo yang jauh lebih kurus ternyata pulih di hari ke-6. Polly? Dia meninggal 7 hari setelah aku adopsi, sekitar 24 jam sejak nggak mau makan.

Pesanku, kalau anabul kamu kena parvovirus, mental kamu pun harus kuat, ya. Kamu harus bisa dukung mereka untuk sembuh dan yakin mereka akan sembuh. Karena saat dibawa ke dokter, mungkin akan ada banyak dokter yang langsung membeberkan fakta dari situasi anabulmu. Tapi, kamu yang tau seberapa kuat mereka, lalu kamu sendiri harus yakin dan ikut yakinkan anabulmu bahwa mereka kuat. Selama jantungnya masih berdetak, harapanmu harus tetap menyala, yang penting kamu nggak boleh lengah.

Jangan lupa minta kontak dokter untuk berjaga-jaga di situasi genting. Kalau doktermu terlihat nggak meyakinkan, segeralah ganti dokter! Apalagi, kalau menulis resep sembari lihat ke HP. Kalau tinggal di daerah Tangerang, sebaiknya langsung ke dokter rekomendasiku di atas.

Kalau mau kasih perhatian lebih boleh aja, tapi jangan manjakan mereka ya, karena saat mereka merasa nyaman, dorongan untuk melawan penyakit akan semakin lemah. Percaya atau nggak, it all goes back to our energy and mindset. Semoga artikel ini sampai ke kamu di waktu yang tepat dan semoga kamu nggak perlu kehilangan anabulmu karena virus ini. Soalnya, parvovirus sebenarnya treatable, yang penting kamu telaten dan sabar.

Hal yang aku pelajari dari kejadian ini adalah…

  1. Sebelum umur 3 bulan, jangan bawa anabul ke luar atau jalan-jalan. Setelah umur 3 bulan, segera vaksin!
  2. Jangan terlalu manjakan anabul, tegas ajari mereka untuk disiplin.
  3. Love them to the fullest while they lasts. Hug them, kiss them, talk to them, cry with them, give all the love sincerely.

Disclaimer sekali lagi, aku bukan praktisi kesehatan hewan ya, jadi sharing ini hanya berdasarkan pengalaman. Tapi, aku bertanggung jawab atas setiap kata yang kuketik di artikel ini. So, feel free to correct me if I’m wrong.

Terima kasih sudah meluangkan waktumu untuk membaca. Terima kasih Nyx, Kyo, dan Polly yang udah menjadi bukti kebaikan Tuhan di keluarga ini.

Let’s continue the journey, Kyo. Terima kasih untuk semua memorinya, Nyx yang nyebelin tapi bisa jadi kayak ibu-ibu kalo ketemu puppy, you’ll forever stay in our memories. Always.

I’m closing this by saying “Nik manaaa Nik?” which followed by Kyo’s face looking at me.

I’m not crying, you are

I Got Myself A Birthday Gift

“Kalau aku potong rambut, aku pengin potong rambut for a good cause.”

Tidak secanggung itu, tapi kurang lebih seperti inilah kalimat yang terucap saat saya dan Mama mengobrol di teras loteng rumah malam itu. Kalimat ini akhirnya menjadi sebuah rencana yang dijalankan beberapa minggu hingga bulan setelahnya.

Sejak akhir Maret 2020, kantor saya mulai memberlakukan Work From Home (WFH) dengan sistem bergantian. Lalu escalated pretty quick hingga menjadi full WFH pada pertengahan April hingga saat ini (November 2020). Ya, selama itulah saya tidak ke kantor, kecuali untuk beberapa “keperluan penting” (baca: saat bosan di rumah), yang tentunya dilakukan di masa PSBB transisi. Selama di rumah, saya membiarkan rambut yang sudah cukup panjang ini semakin bertumbuh.

Tujuh bulan berturut-turut saya tidak memedulikan seberapa panjang rambut ini nantinya. Mengingat saya sudah tak keluar rumah hampir sama sekali, saya mulai mengurangi jatah keramas. Ya, tentu saja, kalau sekali keramas bisa memakan waktu 1 hingga 1,5 jam dan rambut saya tidak cepat kotor pula, untuk apa saya sering keramas? Toh selain rambut cepat kering, sampo dan kondisioner akan lebih cepat habis, plus boros air, hehehe.

Tapi percayalah, sama seperti beberapa dari kalian, saya juga sempat menonton video tutorial potong rambut panjang ber-layer. Terlihat mudah dan hasilnya memang cantik. But well, you know the truth, praktiknya tidak akan semudah itu. Untuk mengepang rambut sendiri saja saya sering menyerah karena pegal dan tidak rapi, apalagi untuk potong rambut!

Akhirnya, saya sering merasa rambut ini sangat panjang setiap selesai keramas. Meskipun, rambut hitam, lebat, dan panjang sudah menjadi identitas saya sejak kecil dan saya memang suka dengan gaya ini. Katanya, orang akan terlihat lebih kurus kalau rambutnya panjang, entahlah. Tapi yang saya tau, saya akan merasa lebih insecure jika mempunyai rambut pendek, karena saya takut rambut ini akan terlihat mekar seperti singa.

Namun akhirnya percakapan itu terjadi, plus teman saya low key menantang saya untuk memotong rambut hingga pendek. Sekitar pertengahan Oktober, saya mulai googling soal donasi rambut. Believe it or not, saya bahkan membaca artikel WikiHow tentang cara mendonasikan rambut. Iya, ada tuh artikelnya, hasil terjemahan pula!

The Planning

Di akhir Oktober, saya mendapat jatah libur 5 hari berturut-turut, how lovely! Saya pikir, inilah waktunya untuk melakukan berbagai kegiatan yang selama ini tidak saya lakukan, misalnya menyulam. Yap, kegiatan random ini muncul awal Oktober lalu, akibat terlalu bosan di rumah.

Kain yang saya sebut sebagai “coret-coretan sulaman”.

Selain menyulam, saya juga akhirnya menemukan Yayasan Kanker Indonesia (YKI) untuk menjadi penerima “mahkota” ini. Di waktu senggang, saya mengambil waktu sejenak untuk meyakinkan diri sendiri, membulatkan tekad untuk memotong rambut dan mendonasikan rambut ini.

“Minimal 25 cm,” persyaratannya, “Rambut sehat dan tidak dicat, dalam kondisi bersih dan kering, serta diikat menjadi dua ekor kuda. Guntingan rambut dimasukkan ke dalam zip lock dan dikirim ke Yayasan Kanker Indonesia, Jalan Dr. GSSJ Ratulangi no. 35, RT.2/RW.3, Gondangdia, Menteng, Jakarta Pusat.” Namun, saat ini sepertinya donasi rambut sedang ditutup.

Wah, 25 cm, pikir saya. Lalu saya meminta Mama untuk mengukur panjang rambut dan ternyata sudah lebih dari 30 cm dari ujung rambut hingga ke bawah bahu. Namun, saya memutuskan untuk memotong rambut hingga di atas bahu, just to challenge myself. Akhirnya, saya memutuskan untuk memotong rambut di hari terakhir liburan, yakni 1 November, hari pertama bulan lahir saya.

Alasannya simpel, saya hanya ingin pemotongan rambut ini menjadi ‘hadiah’ from me to me untuk ulang tahun saya tahun ini. Sejak beberapa tahun lalu, sudah menjadi kebiasaan saya untuk menghadiahi diri sendiri, karena saya tidak ingin terlalu menggantungkan kebahagiaan saya sendiri pada orang lain. Lagipula, you shouldn’t depend your happiness on someone else, right?

The Gift’s Prep

Hari yang dinantikan pun tiba. Sejujurnya, saya tak lagi merasa sedih karena harus kehilangan rambut panjang ini, mengingat banyak orang yang terpaksa kehilangan rambut not under their concern. Saya malah merasa antusias jika bisa berbagi kebahagiaan melalui apa yang saya miliki. Bersama Mama, kami mengunjungi salon yang memotong rambut saya pertama kali saat kecil, Salon Bang Andi.

“Nih potong segini aja, Bang Andi,” ujar Mama.

“Iya gapapa pendekin aja, Om. Ntar modelnya kayak gini, ya,” ucap saya sembari menyodorkan hasil potongan rambut pendek untuk rambut tebal yang sudah saya cari sejak awal liburan.

Lalu Bang Andi was likeOh okay, let’s do it.”

*kress* *kress* *kress*

Tanpa basa basi, seikat rambut sebelah kiri saya sudah terpotong dan segera disusul oleh seikat rambut sebelah kanan. “Nih dia rambutnya,” Mama menyodorkan dua ikat rambut saya. Tapi, entah kenapa saya merasa geli saat memegang rambut itu setelah dipotong, it feels strange to hold your long hair hanging apart from your head, you know.

Usai digunting rapi, keramas hingga dikeringkan, ternyata saya menyukai gaya rambut baru ini. It fits me well, meskipun saya merasa cukup insecure karena saya bisa merasakan angin mengembus leher belakang saya dan tidak ada rambut yang menghalanginya lagi. Tidak sedih, hanya perlu waktu untuk adaptasi.

Rambut saya sebelum dan sesudah dipotong.

Beberapa hari berlalu hingga akhirnya saya berkesempatan untuk memotret rambut setelah dipotong, usai membuat dokumentasi sebelum memotong rambut beberapa minggu lalu. Tak lupa, saya juga foto bersama rambut yang sudah dipotong. What do you think?

Satu dari dua ikat rambut yang akan didonasikan.

Final Touch: Putting a Ribbon

Berbagai hal saya alami selama adaptasi rambut baru, seperti sulitnya mengikat rambut saat hendak mandi, rambut yang terasa ringan saat tertiup angin, terasa lebih lepek meski hanya belum keramas selama beberapa hari, bahkan saya terkadang menggeleng-gelengkan kepala di depan cermin, di mobil, atau saat bekerja (di rumah) karena rambut ini terasa menggemaskan bagi saya. Plus, saya suka rambut yang terlihat bagus meski effortless ini.

Akhirnya, rambut saya memang terlihat agak lebar karena tebal dan terlihat seperti singa, tapi bukan dalam konteks negatif seperti yang saya takutkan. Saya senang karena I can finally give this crown to another princes/princesses. Pun, saya merasa lebih percaya diri karena ‘singa’ ini akhirnya brave enough to show her true self. Well, meskipun secara teknis singa betina tidak memiliki rambut lebar, but you know, it’s obviously a metaphor!

Kalau kata Novo Amor, “Now I feel like I’m finally me!

Daily “office look” sejak April 2020.