Bertualang di Kota Kembang [Bagian 2]

[Bagian 1-nya ada di sini]

 

Setelah melewati Tugu Titik Nol Kilometer Bandung, muncul pertanyaan “Mau ke mana lagi nih kita?” dari Stella. Saya yang agak bingung untuk memutuskan akhirnya mengajak Stella untuk bersama-sama mencari tempat tujuan lain hingga Museum Konferensi Asia Afrika (KAA) menjadi tujuan selanjutnya. Pintu masuk yang kecil membuat kami agak ragu untuk masuk, karena masih ada pintu lain mengarah ke Gedung Merdeka yang tertutup rapat oleh pagar besi.

 

Namun, papan pengumuman yang menyatakan bahwa hari itu Museum KAA buka meyakinkan kami untuk masuk dan mendorong pintu. “Tok tok,” celetuk saya, yang disambut oleh penjaga pintu museum dengan senyuman. Ternyata pengunjung tidak perlu membayar sepeser pun untuk menikmati museum yang menerima penghargaan sebagai Museum Paling Menyenangkan tahun 2015 ini.

 

Beragam hasil dokumentasi Konferensi Asia Afrika yang dihelat pada 1955 lalu membuat saya terkagum dengan pencapaian yang pernah dilakukan Bung Karno dan Bung Hatta saat mereka masih menjabat sebagai presiden dan wakil presiden Indonesia. Bagaimana tidak, PM Indonesia, Ali Sastroamidjojo, berhasil mengumpulkan perwakilan dari 29 negara untuk bertemu di Bandung demi mendiskusikan perdamaian dunia.

 

Namun, saya masih agak menyayangkan perilaku pengunjung yang tidak dapat menghormati museum ini. Ketika saya berkunjung, segerombolan anak remaja 13-16 tahun berjumlah 8-10 orang memainkan layar sentuh yang mungkin berisi video pendek rapat KAA, lalu mereka duduk di salah satu kursi aula KAA sembari menaikkan kaki ke senderan kursi di depannya. Kasus lain, tombol untuk memutar pidato pembukaan KAA oleh Bung Karno tidak dapat dimainkan, sayang sekali.

 

Sepulang dari Jalan Braga, Lapangan Gasibu di Jalan Diponegoro adalah tujuan kami selanjutnya. Saat sampai di sana, Stella menjelaskan bahwa dosennya merupakan salah satu desainer lapangan ini. Kunjungan ke Lapangan Gasibu terasa seperti tur bagi saya, karena Stella menjelaskan cukup banyak hal mengenai konstruksi lapangan seluas kurang lebih 6000 m2 tersebut.

Lapangan Gasibu dan Gedung Sate di kejauhan.

 

Kami menghabiskan cukup banyak waktu untuk memilih destinasi selanjutnya hingga waktu menunjukkan saatnya makan malam, di mana Warung Kopi Purnama yang terletak di Jalan Alkateri, Braga menjadi pilihan. Tempat ini menjadi salah satu rekomendasi tempat makan di Bandung, tidak heran, selain sejarah yang dimiliki, Nasi Goreng Purnama yang dibanderol dengan harga Rp30 ribu pun mampu memanjakan lidah. Di sinilah “deep talk” kembali dimulai, bahkan setelah Warung Kopi Purnama tutup, percakapan kami masih berlanjut.

 

Ditemani Stefan, kami bertolak ke Warkop Gemboel Mini (Gemini) yang terkenal sebagai “Warkop yang tidak akan pernah tutup kecuali kiamat” hingga waktu menunjukkan hampir pukul 12 malam dan kami harus kembali ke indekos Stella.

 

Sesampainya di indekos, kami yang sudah berjanji untuk menonton film bersama tetap melaksanakan perjanjian tersebut. Setelah memilih beberapa film, Forrest Gump menjadi pilihan, well, I’ll never regret that choice, karena saya kerap mengingatkan diri sendiri bahwa film tersebut diproduksi di tahun 1994 akibat plot dan pengambilan gambar, serta akting Tom Hanks yang terlihat sangat mengesankan (9/10 dari saya).

 

Di hari terakhir perjalanan ini, saya, Stella, dan Stefan akan kembali ke Jakarta menaiki kereta tujuan Gambir pukul tujuh malam nanti. Kami mengawali hari ini dengan menyantap daging sapi di Se’i Sapi Lamalera yang terletak di kawasan Lebakgede, Coblong, dengan harga terjangkau, misalnya se’i sapi sambal matah yang saya pesan ini hanya dibanderol Rp25 ribu saja! Setelah itu, saya mengajak mereka untuk menonton Deadpool di Ciwalk (akhirnya dapat tiket nonton dari kota lain selain Jakarta!).

Se’i Sapi Sambal Matah, Yum!

 

Waktu kurang lebih menunjukkan pukul setengah lima sore ketika saya dan Stella sampai di indekos. Kami berkemas lalu kembali bertemu dengan Stefan yang sudah menunggu di ujung gang. Saat kami sampai di stasiun, ternyata masih ada waktu untuk santap malam yang akhirnya kami gunakan untuk menyantap sajian dari Hokben.

 

Kereta meluncur sekitar pukul 7:30, melesat melampaui ruang dan waktu hingga menyisakan Bandung dalam ingatan kami, saya hanya dapat menyatakan dalam ingatan bahwa Jalan Ir. H. Djuanda yang dihiasi tiang lampu hijau gelap dan bunga (kembang) merah baru saja menjadi jalanan favorit saya di Bandung.

 

Meski hanya tiga hari, namun waktu yang telah kami jalani tak akan bisa diambil kembali, lalu saya teringat ujaran Pidi Baiq yang dipajang di terowongan Jalan Asia Afrika, “Dan Bandung bagiku bukan cuma masalah geografis, lebih jauh dari itu melibatkan perasaan, yang bersamaku ketika sunyi.

sumber foto: klik pada gambar

 

TH

Bertualang di Kota Kembang [Bagian 1]

Sugar glider bernama Bubble itu sedang tidur ketika saya datang. “Oh ini Stel yang nanti mau lo titipin ke gue?, “Iya, Tin,” ujar Stella, yang hingga saat ini merupakan satu-satunya teman bertualang dan orang yang saya percayai untuk diajak “deep talking”.

 

Demi menempuh pendidikan arsitekturnya, Stella tinggal di Bandung sejak 3 tahun lalu. Ini adalah kesempatan pertama saya untuk benar-benar mengunjunginya, selain sebagai momen refreshing setelah menghadapi UAS, namun juga untuk menjalankan salah satu kebiasaan yang sudah kami lakukan sejak dulu, bepergian bersama.

 

Hari pertama dihabiskan dengan menonton salah satu episode dari serial Inggris bertajuk Black Mirror, lalu pada malam harinya, kami menghabiskan waktu menyantap daging non halal di Sudirman Street bersama dengan dua teman Stella, yakni Stefan dan Hafiz.

 

Esok harinya, kami memulai aktivitas dengan menghadiri perayaan Misa (Katolik) di Gereja St. Laurentius di kawasan Gegerkalong, Sukasari. Ibadah yang khusyuk dan tenang ini menghiasi pengalaman pertama saya menghadiri Misa hingga saya terheran, manusia macam apa yang tega meledakkan bom di tengah ibadah seperti ini.

 

Perjalanan dilanjutkan dengan mengunjungi area pejalan kaki yang cukup terkenal di Bandung, Braga Citywalk atau Jalan Braga. Sebelum memulai kegiatan berjalan secara harfiah ini, kami menyiapkan amunisi berupa Ayam Asap Sambal Matah dari Warung de Harmony dan Es Kopi Awan dari Kopi Toko Djawa, serta seperangkat alat foto seadanya, yakni dua iPhone dan satu Xiaomi Note 4X.

Ayam Asap Sambal Matah dari Warung de Harmony, yum!

 

Pedagang lukisan berjejer di sepanjang Jalan Braga, menjajakan hasil karya visual dengan model gambar yang saling menyerupai, yakni pemandangan laut, sawah, gunung, atau hewan dan tumbuhan seperti ikan dan bunga. Di sanalah kami turut melukis kenangan dengan memotret hampir setiap hal yang tampak, didukung dengan tinta alami, yaitu cahaya matahari.

 

Gedung Kantor Cabang Pusat Bank BJB di Jalan Braga

Di sela-sela tur pendek ini, Stella berujar, “Model gedung ini (Kantor Pusat Bank BJB) namanya Art Deco, karena ada tembok tebal buat pemisah antarlantainya. Nanti di depan sana ada hotel namanya Savoy Homann, di situ ada menara yang mirip kayak gedung ini. Dulu, tempat itu dipake orang-orang Belanda buat mata-matain musuh, kalo ada orang Indonesia yang mau nyerang, bisa langsung ditembak dari sana,” lalu saya merasa agak ngeri namun kagum membayangkan strategi mereka.

 

(Lanjut ke Bagian 2)

Berakhir Pekan di Surganya Indonesia

Tristin Hartono (14150098)

Oktober, 2017, ketika saya bersama teman-teman iseng merencanakan perjalanan ini, “Bangkok?”, “Jogja aja,” “Nggak ah, Jogja lebih horor daripada Bali, “Kalau gitu kita ke Bali aja! “Atau mau ke Malang?” percakapan ini berlanjut, sehingga masih di bulan yang sama, pesawat dengan penerbangan Jakarta-Denpasar dan sebaliknya di tanggal 2 dan 4 Februari sudah terpesan untuk 5 orang.

 

“…and welcome to Bali.” Tutup seorang wanita dari pengeras suara di pesawat yang memecah keheningan di otak saya, menguapkan memori yang teringat ketika perjalanan ini hanya sebuah guyonan belaka.

 

Kami sampai di pintu kedatangan ketika seorang tour guide yang juga teman salah satu ‘wali’ (pembina kegiatan gereja‒red) kami menyambut dengan senyuman. “Kenalin, ini namanya Ko Puji,” ujar pembina wanita kami, Ci Feciana. Mengikuti budaya kami semua, yakni etnis Tionghoa, adalah hal biasa untuk memanggil “Cici” dan “Koko”.

 

The Adventure Begins

Perjalanan ini diawali dengan santap siang di Warung Cahaya yang menyediakan hidangan non-halal. Lalu setelah melakukan check-in di hotel, perjalanan dilanjutkan dengan mengunjungi Pantai Canggu di Kuta Utara. “Akhirnya, udara pantai!” saya membatin. Saat itu matahari masih tinggi, yang untungnya berbanding lurus dengan semangat kami.

 

Angin yang berembus pelan melahirkan deburan ombak yang tenang, hingga mengantarkan saya pada ketenangan sementara dari hiruk pikuk Kota Jakarta. Meski pasir pantai terlihat agak kotor dan berwarna gelap, namun view berupa anjing liar yang tinggal di pura dekat pantai membuat saya dapat melihat, bagaimana anjing dapat hidup berdampingan dengan manusia.

 

Setelah beberapa kali mengambil swafoto bersama, tiba-tiba

Stanley dan pemiliknya sedang bermain di pantai (dok. penulis)

seekor anjing ras besar berwarna hitam mendatangi saya. Sembari menggigit botol minum bekas berisi sedikit pasir, ia melepaskan gigitannya, membiarkan botol itu terjatuh di kaki saya.

 

Meski belum kenal, namun anjing betina yang akhirnya diketahui bernama “Stanley” ini tidak berusaha menghindar atau menggigit ketika saya usap kepalanya. Kode yang ia kirim saya jawab dengan mengambil botol yang ia berikan, lalu melemparnya ke arah laut. Ia berlari dengan semangat, mengambil botol mainannya tersebut, lalu kembali ke kaki saya melakukan hal yang sama.

 

Perjalanan dilanjutkan dengan menikmati gelato yang konon hanya ada di Bali, sebab sisanya hanya ada di luar Indonesia, Gusto Gelato namanya. Harga yang ditawarkan pun setara dengan lezatnya varian rasa es krim yang beragam, mulai dari spicy chocolate, hingga lemongrass (sereh) dan kemangi.

Salah satu menu Gusto Gelato, yum! (sumber: klik pada gambar)

 

 

Hari pertama di Bali ditutup dengan berbelanja di Krisna, Kuta, di mana sebelumnya kami sudah menyantap Soto Bakso Warung Wijaya. Saya sangat menyarankan Anda untuk mencoba soto bakso yang terdapat di Jalan Kuta Raya ini jika Anda adalah penyuka soto daging, sebab kuah yang disajikan sangat khas dengan tambahan daging dan bakso sapi yang kenyal dan juicy.

 

Burn the Skin!

Di hari kedua, kami mengunjungi tempat yang tak terduga. Sejak meninggalkan hotel, saya terlelap akibat didukung cuaca agak mendung, dan menyerahkan rencana perjalanan kepada Ci Feciana dan Ko Puji. Selang beberapa waktu, saya dibangunkan dengan penampakan tebing kapur yang menjulang tinggi dan lebar menghiasi jalanan.

 

Setelah mengikuti jalan menanjak ke arah puncak tebing, tampaklah proyek megah setinggi 120 meter yang melibatkan ratusan seniman dan ‘trailer’nya sudah ada sejak 1997 di Desa Ungasan, Kuta Selatan. Ya, patung Garuda Wisnu Kencana (GWK)… dari jarak dekat! Meski patung ini terkenal, namun belum banyak wisatawan yang bertandang ke tempat ini.

Patung Garuda Wisnu Kencana (dok. penulis)

Perjalanan dilanjutkan ke Pantai Melasti. Namun, mobil terhenti di pinggir jalan. Ko Puji mengiyakan permintaan kami untuk berfoto di jalan aspal dekat Banyan Tree Chapel yang dihiasi dengan pepohonan dan tebing kapur. “Yuk, kita naik tangga dekat sini,” ujarnya setelah kami selesai berfoto.

Jalan di Pinggir Banyan Tree Chapel (dok. penulis)

Awalnya saya bingung, sebab pantai tujuan kami sudah terlihat di depan mata dan kami seharusnya turun ke arah pantai, bukannya naik. Namun, saya hanya mengikuti arahan tour guide. Bagi Anda yang kurang kuat menanjak tangga dan tidak berani dengan ketinggian, tur ini kurang disarankan.

Tangga menuju Tebing Kapur Melasti. Berani mencoba? (dok. penulis)

Kami mendaki kurang lebih hampir 100 anak tangga, lalu menapaki jalan setapak dengan bebatuan licin, dan kami sampai di bebatuan karang terjal nan tinggi. Inilah yang disebut dengan surga yang terletak di balik tebing kapur berkelok. Cahaya matahari yang bersembunyi di balik awan sirostratus dan deburan ombak dari bawah sana menjadi pelengkap tur Pantai Melasti ini.

 

Asik berfoto di tebing tak membuat kami melupakan tujuan utama, pantai! Kami kembali ke mobil, lalu Ko Puji mengantarkan kami ke ujung pantai Melasti yang benar-benar tidak dijamah pengunjung. Tidak heran, pantai kecil yang dihiasi aspal yang hancur terkena abrasi ini sepertinya sering pasang ketika hujan, dan pasir hitamnya didominasi oleh batu besar, sayangnya, hanya saya yang menyukai suasana ini.

Bagian ujung Pantai Melasti, hampir tak terjamah manusia (dok. penulis)

Berkeliling Discovery Mall, berbelanja sandal yang hanya tersedia di Bali, Fipper, dan menyantap Babi Guling Bu Dayu menjadi penutup di hari kedua ini. Rasanya saya masih butuh beberapa hari lagi untuk berkelana menjelajahi Bali. Namun, waktu berkata lain, saya harus segera berkemas agar esok pagi dapat pergi ke gereja dan meninggalkan hotel lebih cepat.

Good Bye Bali

Sepulang dari gereja, kami menyantap sarapan sate babi di Jalan Buni Sari, lalu melancong ke toko snack kekinian, Rasalokal, dan lanjut ke Beachwalk, Kuta, sebelum akhirnya makan Nasi Tempong Indra di Jalan Dewi Sri, Legian, dan mengakhiri perjalanan kami di Bali.

Salah satu view dari Beachwalk Kuta (dok. penulis)

Overall, perjalanan pertama ke Bali selama 3 hari 2 malam ini cukup berkesan bagi saya yang menyukai petualangan di tempat yang tidak terlalu ramai. Meskipun saya tidak terlalu menikmati wisata kuliner dan merasa kurang puas karena tidak mengunjungi pura karena berhalangan, namun kebersamaan di perjalanan adalah hal yang saya utamakan walau harus membiarkan kulit saya terbakar akibat harus mengabadikan momen terbaik kami.

Bonus! Hasil swafoto di Pantai Canggu ditemani teriknya matahari (dok. penulis)

Jika Anda berminat untuk melakukan perjalanan ke Bali bersama rombongan kecil dan ingin lebih mengeksplor tempat-tempat unik yang mungkin sangat jarang dikunjungi wisatawan, Anda dapat menyewa jasa tour guide Ko Puji dengan menghubungi nomor WhatsApp +62-818-0886-3212/+62-813-5366-1688. Dengan harga bersahabat, Anda sudah dapat berkeliling Bali dan mendapat teman tour guide baru lho, hihihi…

TH

Bentangan Lembah di Utara Bandung

Oleh Tristin Hartono

Matahari pagi kemerahan merambah celah dedaunan hijau yang tergantung lemas. Ladang sawah yang membentang di tengah tebing menampakkan wujudnya menandakan tanaman siap dipanen. Tak hanya itu, kegiatan wisata juga hampir dimulai, ditandai dengan bertambahnya jumlah pesepeda yang mengayuh kendaraan mereka ke arah puncak.

Di sanalah Dedi melakukan perjalanan bersama rekan dan istrinya menikmati ciptaan Tuhan yang baru mereka ketahui ini. Membayangkan hasil pemandangan yang akan didapatnya nanti membuatnya semakin semangat melangkah. Berharapkan jerih payah yang ia keluarkan dapat terbayar dengan sajian alam yang menakjubkan, Dedi tetap melekukan senyum penuh semangat sembari melewati jalan setapak itu.

Jalan berliku itu memang selalu membuat wisatawan tertantang untuk segera mencapai puncak demi menyaksikan keagungan Ilahi tersebut. Kabut yang menyelimuti rumah penduduk seolah mendekap hamparan sawah dan mulai terangkat bagaikan terangkatnya selimut yang mendorong mereka memulai rutinitas. Udara segar pagi yang mengalir di sekitar Tebing Keraton tak pernah gagal memacu semangat penduduk untuk terus bekerja.

Pohon-pohon menjulang tinggi di sebelah kiri jalan yang harus dilalui wisatawan untuk mencapai puncak. Jika wisatawan tidak ingin merasa lelah atau tidak kuat dengan perjalanan menanjak yang panjang, mereka dapat menyewa ojek yang dibandrol Rp25 ribu untuk satu kali perjalanan.

Sebenarnya perjalanan tersebut dapat ditempuh dengan mobil, namun kendalanya terdapat pada jalanan yang belum selesai diperbaiki, sehingga wisatawan mau tidak mau harus menempuh lagi perjalanan dengan berjalan kaki sejauh 3 KM. Tapi tidak perlu khawatir, pasalnya, matahari yang bersinar tidak terlalu terik dan udaranya juga tidak pengap seperti di kota.

Tantangan terberat yang harus dihadapi wisatawan yaitu tanjakan terakhir yang kemiringannya kurang lebih mencapai 150 derajat. Namun tak perlu cemas, pintu masuk Tebing Keraton sudah berdiri tegak di depan mata. Para pedagang makanan kecil dan air mineral juga siap sedia melayani permintaan pengunjung yang kelelahan. Jika sudah cukup melepas lelah, kita bisa langsung masuk ke area wisata.

Pintu gerbang yang dibuat dari batu melengkung di atas permukaan aspal. Kita dapat membeli tiket masuk dari loket yang berada di pintu masuk. Dengan membayar Rp11 ribu untuk wisatawan domestik dan Rp76 ribu untuk wisatawan asing, pengujung sudah dapat menikmati indahnya pemandangan hutan lindung dari tebing yang diberi pagar kayu.

Sedikit berjalan masuk setelah pintu gerbang, terdapat sebuah gazebo yang dilengkapi dengan meja dan kursi kayu agar pengunjung dapat merasa seperti sedang berada di alam bebas. Di sana pengunjung dapat bercengkrama sambil menikmati bekal yang mereka bawa, atau bisa langsung melewati jalan setapak menuju ujung tebing yang dihiasi pohon dan rerumputan serta  terdapat batu-batu besar yang terlihat unik karena hanya dapat dijumpai di ujung tebing.

Setelah sampai di ujung tebing, kita dapat melihat pemandangan alam yang membentang dari kiri ke kanan sejauh mata memandang. Di sebelah kiri, pemandangan didominasi dengan pegunungan yang hampir penuh dihiasi pohon pinus dan berlanjut sampai ke arah tengah tebing. Lalu di sebelah kanan, kita dapat melihat setengah hutan pinus yang semakin apik ditambah hamparan sawah dan segelintir rumah penduduk.

Sejarah Tebing Keraton

Tebing Keraton dibuka menjadi tempat wisata sejak bulan Agustus 2014. Terletak di daerah Patahan Lembang, area wisata ini satu paket dengan Taman Hutan Raya Ir. H. Djuanda yang dibagi juga menjadi beberapa blok, yaitu Monumen Ir. H. Djuanda, Curug Dago, Museum Ir. H. Djuanda, outbond, Goa Jepang, Goa Belanda, Curug Omas, penangkaran rusa, dan Curug Koleang.

Nama “Tebing Keraton” berasal dari komunitas mahasiswa pesepeda dari Jogja yang datang ke tebing ini lalu mengunggah foto tebing beserta kegiatan mereka ke media sosial dan memberi nama Tebing Keraton. Sejak saat itu nama Tebing Keraton menjadi semakin dikenal oleh masyarakat luas dan pengunjung mulai datang bergerombol untuk bersepeda atau hanya menikmati pemandangan alam.

Processed with VSCO with preset
Hutan dan pegunungan yang terbentang di sebelah kanan tebing. (Dok: Penulis)

Area ini diambil menjadi tempat wisata karena pemerintah dan dinas kehutanan setempat khawatir jika pengunjung semakin banyak dan area ini masih terlantar, tempat ini akan dirusak oleh manusia yang tidak bertanggungjawab. Jadi, sebaiknya pemerintah membuat area tebing ini menjadi tempat wisata dan dijaga dengan baik sebelum terlanjur dirusak.

Jika dihitung dari mulai diresmikan sebagai tempat wisata pada Agustus sampai Desember 2014, jumlah pengunjung yang datang ke Tebing Keraton ada sekitar 500 sampai 700 orang termasuk hari Sabtu dan Minggu. Dibuka mulai pukul 4:30 pagi, area ini tak pernah sepi pengunjung sampai waktunya ditutup pada pukul 6 sore.

Prospek ke Depan

Menurut Iwa Kartiwa, Kepala Pengelola Tebing Keraton, jika sebuah kawasan wisata belum berjalan selama 5 tahun, maka masih dianggap baru dan membutuhkan adanya pembangunan, misalnya toilet, jalanan, serta sarana, dan pra-sarana. Sedangkan jika sudah melebihi 5 tahun, maka disebut perbaikan, sedangkan Tebing Keraton yang baru berjalan hampir 2 tahun masih memerlukan banyak penambahan fasilitas, seperti jalanan setapak yang tidak licin dan berbatu, shelter untuk kendaraan, gazebo, serta camping ground.

Ke depannya, pihak Tebing Keraton rencananya akan membuat lampu penerangan di jalan setapak dalam area wisata, “Tebing Keraton ini ada rencana dibuka untuk malam juga, karena kita sebagai pengelola lapangan dan pihak terkait di lapangan sudah mengukur jalan untuk lampu penerangan,” ujar Iwa. Tujuannya, yaitu agar jika sudah dibukanya wisata malam, wisatawan dapat berjalan tanpa direpotkan oleh penggunaan senter atau alat penerangan lain.

Tidak hanya fasilitas, mereka juga bertekad untuk memberikan pengamanan wilayah yang lebih intens melalui tenaga kerja yang dapat berinteraksi secara baik dengan masyarakat. Oleh karena itu, pihak Tebing Keraton merekrut anggota penjaga keamanan yang mumpuni, misalnya partisipan dari masyarakat.

“Ada masyarakat sekitar sini yang tergabung dalam partisipatif. Partisipatif itu adalah sekelompok masyarakat atau perwakilan dari desa yang diperbantukan oleh dinas kehutanan,” jelas Iwa.

Melalui tim perwakilan dari desa untuk menjaga keamanan Tebing Keraton, diharapkan agar hubungan antara penjaga Tebing Keraton dengan masyarakat di lingkungan sekitarnya tidak terlihat begitu kaku atau canggung karena kebanyakan dari mereka sudah cukup mengenal satu sama lain.

Processed with VSCO with preset
Dok: Penulis

Nah, jika Anda memiliki rencana untuk pergi berlibur ke Bandung, khususnya di Bandung Utara, tidak ada salahnya jika nama Tebing Keraton tercatat dalam daftar tujuan wisata Anda.

TH