Dying with The Dying Girl

Greg, seorang siswa SMA yang tidak mempunyai banyak teman namun mempunyai hobi membuat parodi film klasik dengan cara (yang menurut saya) kreatif. Kehidupan Greg berubah setelah sebuah permintaan yang lebih seperti ancaman muncul dari Ibunya, yaitu untuk menjadi teman bagi Rachel, tetangga dan teman sekolahnya yang dikabarkan menderita Leukaemia.

Sebelum berteman dengan Rachel, Greg sudah mempunyai sahabat yang telah bersamanya sejak kecil, yakni Earl. Greg dan Earl seringkali mengunjungi ruangan Mr. McCarthy untuk menonton atau sekadar bermain game.

Sudut pandang film ini berasal dari Greg sendiri, yang menceritakan kehidupannya di sekolah, di mana dia tidak mempunyai banyak teman, lalu bagaimana dirinya menyukai teman sekolahnya, Madison, hingga pertemanannya dengan Earl dan Rachel.

Beberapa waktu setelah omelan Ibunya, Greg menyerah lalu mematuhi permintaan untuk mengunjungi rumah Rachel dan memberinya dukungan untuk melawan Leukaemia. Sama seperti menulis buku harian, Greg menghitung harinya sejak pertama kali dia datang ke rumah Rachel yang disebutnya sebagai “Doomed Friendship“, namun seiring berjalannya waktu, kecanggungan di antara mereka perlahan menghilang.

Suatu hari, Greg mengajak Earl ke rumah Rachel, lalu mereka bertiga keluar untuk membeli es krim. Earl menjelaskan pada Rachel bahwa Greg mempunyai trust issue sehingga dia tidak mempunyai teman, melainkan “co-worker“. Saya yang tadinya ikut bingung dengan sebutan “co-worker” akhirnya mengerti makna kata tersebut.

Beberapa minggu kemudian, Madison datang saat Greg dan Earl membuat parodi film, dia meminta agar mereka membuatkan film untuk Rachel, tentang segala hal favoritnya dan semacamnya. Meskipun Greg tidak setuju, tapi akhirnya mereka membuatnya juga.

Greg mengingatkan beberapa kali kepada penonton bahwa ini bukanlah film drama romantis, dan melalui narasinya, dia juga berjanji bahwa Rachel dapat bertahan dari penyakit kankernya, that’s a little bit spoiler I guess, namun tetap saja saya melanjutkan tayangan film ini.

Tak hanya berfokus pada penyakit Rachel, namun Greg dan Earl tetap produktif menciptakan parodi film, di mana penonton juga dapat melihat hasilnya dalam bentuk potongan adegan kocak, it was kinda fun, though.

Diperankan oleh Thomas Mann (Greg), RJ Cyler (Earl), dan Olivia Cooke (Rachel), menurut saya film ini cukup berhasil menciptakan vibe sederhana akan kehidupan seorang siswa dengan trust issue dan kreativitas membuat parodi film bersama sahabatnya serta mendukung perjuangan seorang teman yang menderita Leukaemia.

Pada dasarnya film bergenre drama komedi yang dirilis pada 2015 ini adalah cerita Greg mengenai kehidupannya yang ikutan ‘sekarat’ sejak dia mengenal seorang perempuan penderita kanker yang sedang sekarat (the dying girl), Rachel, juga tentang persababatan yang yang tak selamanya berjalan mulus, dan mengenai penerimaan jati diri. Tapi ingat, jangan mengharapkan adanya adegan romantis ya, karena sekali lagi, ini bukanlah film drama romantis.

Meskipun tidak sempat tayang di Indonesia, namun film ini cukup saya rekomendasikan untuk ditonton bersama keluarga atau sekadar untuk hiburan. Penilaian yang saya berikan adalah 7.5/10 untuk alur dan penceritaan Greg yang begitu kronologis, maklum saja, saya suka menjadi pendengar.

TH

Petualangan Gadis Kecil Menyelami Hidup Orang Dewasa

Oleh Tristin Hartono

Scout Finch menceritakan kisah hidupnya ketika ia berumur enam tahun, ketika Dill Harris datang ke kehidupannya dan kakak laki-lakinya, Jem Finch. Dill adalah keponakan Miss Rachel, yang tinggal tidak jauh dari kediaman mereka di Maycomb County. Hidupnya berubah setelah Dill harus kembali ke rumahnya di Meridian.

Scout yang masih anak-anak mulai memiliki rasa ingin tahu yang besar tentang kehidupan manusia di sekitarnya. Novel ini mengambil setting waktu di tahun 1930-an, ketika perbedaan warna kulit di Amerika masih sangat kentara. Setiap orang berkulit hitam dianggap pantas menerima hukuman gantung meski tanpa proses pengadilan.

Atticus Finch, ayah Scout dan Jem yang bekerja sebagai seorang pengacara saat itu dengan berani memilih untuk membela seorang kulit hitam yang juga budak bernama Tom Robinson dalam sebuah pengadilan dengan kasus pemerkosaan terhadap wanita berkulit putih.

Scout yang dengan polosnya selalu menanyakan hal yang ingin diketahuinya tidak setuju dengan hasil pengadilan yang masih menyatakan Tom Robinson sebagai orang bersalah. Namun apa yang bisa dilakukan seorang anak perempuan berumur tujuh tahun terhadap keputusan pengadilan yang didominasi oleh orang kulit putih?

Dalam kutipan “Kau tidak akan pernah bisa memahami seseorang hingga kau melihat segala sesuatu dari sudut pandangnya … hingga kau menyusup ke balik kulitnya dan menjalani hidup dengan caranya,” Harper Lee mengajak pembaca melihat kehidupan orang dewasa yang selalu berprasangka antara satu sama lain melalui sudut pandang Scout.

To Kill A Mockingbird sempat memenangkan piala Pulitzer di tahun 1961. Novel yang mengguncang khazanah sastra dunia ini sudah terjual hingga 40 juta kopi di seluruh dunia, dan menurut Library Journal, To Kill A Mockingbird adalah “Novel Terbaik Abad Ke-20”.

Setelah sukses dengan To Kill A Mockingbird, Harper Lee kembali menerbitkan karyanya yang hilang selama 60 tahun, Go Set A Watchman, novel yang menginspirasi lahirnya mahakarya To Kill A Mockingbird yang mengantarkannya pada penganugerahan Presidential Medal of Freedom 2007, The Highest Civilian Honor USA.

 

Judul buku: To Kill A Mockingbird

Pengarang: Harper Lee

Penerbit: Qanita

Cetakan: 1, September 2015

Tebal buku: 396 halaman

 

(Tulisan ini telah diterbitkan di rubrik “Resensi” Majalah What’s Up! volume 7 no. 2 Agustus 2017)

Sumber gambar: Carousell

Menangkap Makna dalam The Catcher in The Rye

Julukan “The Coward Sarcastic” atau “Si Sarkastik yang Penakut” saya rasa dapat menggambarkan karakter utama dalam novel ini. Holden Caufield namanya, seorang remaja 16 tahun yang sudah bosan dengan kehidupannya di sekolah asrama khusus laki-laki daerah Agerstown, Pennsylvania, yaitu Pencey Prep.

 

Cerita ini mengisahkan seorang anak lelaki dalam mencari jati dirinya. Pandangan skeptisnya terhadap kemunafikan orang-orang di sekitarnya membuat dia muak dengan segala yang dialaminya selama ini. Tak jarang, Holden terlibat dalam perkelahian yang sebenarnya bisa dihindari.

 

Menggunakan sudut pandang orang pertama, sang penulis kontroversial, J.D. Salinger, berhasil membuat karakter Holden hidup melalui percakapan dan gerutu Holden. Bagaimana tidak, karakter Holden setidaknya berhasil ‘menyihir’ Mark David Chapman, si pelaku penembak mati John Lennon pada Desember 1980.

 

Dampak gerutu kasar dan sifat tak pedulinya Holden membuat buku ini berkali-kali dilarang beredar di beberapa sekolah di Amerika Serikat (AS) sejak 1962. Berbagai alasan dilontarkan institusi yang melarang beredarnya buku ini, mulai dari perkataan kasar (F-words), adegan sensual, hingga penyalahgunaan minuman keras oleh anak di bawah umur.

 

Namun, tidak sedikit juga lembaga pendidikan yang mengakui bahwa The Catcher in the Rye merupakan salah satu literatur penting Amerika sehingga mereka mewajibkan para siswa untuk membaca buku tersebut sebagai tugas sekolah.

 

Kini giliran pengalaman saya dengan The Catcher in the Rye dan Holden yang akan saya tuangkan dalam postingan ini. Sejak pertama kali dibeli sekitar lima tahun lalu, tepatnya ketika saya akan duduk di bangku SMA, perasaan saya tak pernah berubah terhadap cover buku terbitan Banana Publisher ini.

 

The Catcher in the Rye (Banana Publisher 2005) (P.s.: I took the photo myself)

Seperti tampak pada gambar di atas, “Novel Amarah Anak Muda” merupakan kalimat yang terpampang di selimut buku dan tampilan sesosok anak lelaki (berwajah mengesalkan) dengan ekspresi kesal disertai api membara di atas kepalanya. Namun setelahnya saya berpikir, toh, yang saya butuhkan adalah isinya. Rasa penasaran pun sudah menggerayangi saya, mengalahkan perasaan illfeel saat melihat cover buku.

 

Bertajuk sama dengan bahasa aslinya (Inggris), The Catcher in the Rye terbitan tahun 2005 ini dicetak dengan bahasa semi-formal. Saya menyebutnya semi-formal karena mengandung beberapa kalimat baku khas novel terjemahan, ditambah beberapa kalimat sumpah serapah tidak sesuai Ejaan Bahasa Indonesia (EBI).

 

Saat pertama kali membaca buku ini pada 2013 lalu, saya sangat tidak menyukai Holden, anak yang dikeluarkan dari sekolah, suka berbohong demi kesenangan, bahkan berbicara kasar seenaknya hingga dihantam temannya sendiri sampai lebam dan berdarah, and I was like, “Apa-apaan, sih, nih anak.

 

Namun saat saya menonton film biografi J.D. Salinger dalam Rebel in the Rye (2015) beberapa hari lalu, saya kembali penasaran dan membaca ulang novel ini dari awal hingga akhir tanpa melewatkan satu kalimat pun. Hasilnya, saya merasa adanya perbedaan perasaan saya terhadap Holden Caulfield dibanding saat pertama kali membaca.

 

Well, tak bisa dipungkiri memang, terdapat begitu banyak kata kasar terlontar. Saya pun menyadari bahwa meskipun saya baca ratusan kali, setiap kata dalam buku ini tidak akan berubah. Tapi, ada beberapa cara pandang saya yang berubah terhadap Holden. Jika dulu saya menganggap dia mengesalkan, kini saya menyadari bahwa Holden is such a loving guy (saya menggunakan bahasa Inggris, sebab agak janggal jika diterjemahkan ke bahasa Indonesia).

 

Bagaimana dia sebenarnya menyayangi Sally Hayes namun tak dapat mengungkapkannya, dan bagaimana adiknya, Phoebe, bisa begitu menyayangi kakak yang sudah empat kali dikeluarkan dari sekolah ini membuat hati saya sedikit luluh, ditambah lagi dengan serangkaian kalimat lucu nan polos yang dilontarkan Holden, salah satunya adalah pertanyaan tentang “Ke mana para bebek di danau Central Park pergi saat musim dingin?”

 

Membaca novel ini rasanya seperti mendengarkan Holden menceritakan semua curahan hatinya tanpa harus memberikan banyak komentar —hanya respon dalam bentuk senyum lebar dan tawa akibat celetukan kocaknya. Sampai akhirnya, saya baru menyadari bahwa Holden adalah sesosok remaja dengan mimpi sederhana namun disertai pemikiran kompleks.

 

Another fact, agak sulit jika Anda tidak tertarik membaca buku namun ingin mengetahui kisah Holden, sebab, Anda tidak akan menemukan film yang menceritakan petualangan Holden sejak dia keluar dari Pencey Prep, membeli topi berburu, hingga menyelinap ke rumahnya sendiri demi bertemu adik kandungnya ini. Sang penulis, J.D. Salinger, tidak mau menjual hak cipta The Catcher in the Rye untuk dijadikan film. Sama seperti pernyataan Holden, “If there’s one thing I hate, it’s the movies.

 

Meskipun sang penulis yang telah menghabiskan sisa hidupnya dengan mengasingkan diri di New Hampshire ini sudah tutup usia sejak delapan tahun lalu, namun Holden akan tetap hidup di setiap imajinasi pembaca yang pernah “berkenalan” dengannya. Saya memberi nilai 9/10 atas kesederhanaan, kegamblangan celetukan Holden, dan apresiasi terhadap komitmen yang dipilih J.D. Salinger untuk tidak mempublikasikan (bahkan) satu hasil karya lagi hingga akhir hidupnya.

TH

Rebel in the Rye: A Figure Who Brought Holden Caulfield to Life

The first time I read The Catcher in The Rye is when I was 16. It was one of the first novels I’ve read. Not one of my favorite, tbh.

 

So I live in Indonesia and my school didn’t train us to make reading as a habit, it’s a kinda common thing here, then I’d never know about the novel from anywhere at school, until the day where a singer-songwriter, Greyson Chance, mentioned it in one of his tweet.

 

Long story short, the curious nerd younger self of me tried to look for that book, and voila, I got it. Since then, I could never forget the writer’s name (J.D. Salinger) and the fact that this book I read was first published in 1951, including the other fact that the writer has passed away 3 years before I read the book (so sad).

 

In 2018, my YouTube account suggested a movie trailer that seems familiar to me, “Rebel in The Rye”, starred by the actor I know, Nicholas Hoult. I immediately clicked the video and didn’t get disappointed, because I finally got the chance to learn more about the writer!

 

I still don’t really get why am I so curious with the life of a writer, philosopher, or scientist (like Marie Curie for instance). It’s been my own hidden curiosity (the one I’d never tell anyone) since I was in junior school.

 

Let’s get back to the topic. The film was released in 2017, the story line is basically about Jerome David Salinger (Jerry Salinger), a young, not really smart, and sarcastic kid who didn’t want to be a “King of Bacon” as his father wished him to. He wants to be a writer and took a creative writing major in Columbia University.

 

[WARNING!!! This post contains a spoiler, but the film still worth the watch. I didn’t spoil much.]

 

He met a lecturer which soon will be his mentor, Whit Burnett. After that meeting at the café, young Jerry started to learn a lot of things about writing. Not only him, but also the audiences as well, we can also learn to write a story that could bring up some feelings on the readers mind. As the story goes, we can understand how hard it was to publish a book in that age, how Jerry respects his privacy a lot, and more because of the trauma he had when he was a soldier in World War II.

 

As a biography film, we’ll find a lot of Jerry’s life stories, like when he got rejected by the publishers for multiple times, then almost got published right when the war has just started, or when his girlfriend, Oona O’Neil, dumped him by marrying an old man.

 

Whit once said to him,

“Are you willing to devote your life to telling the stories, knowing that you may get nothing in return? And if the answer is no, well, then you should go out there and find yourself something else to do with your life because you are not a true writer,”

which got him thinking about his willing (and mine) to write. It all then finally comes to the point where his novel about a grumpy sarcastic boy, The Catcher in the Rye, was booming and so much more famous than what he imagined this whole time.

 

Jerry felt overwhelmed, he don’t want a fame, all he wants is to write and write and write, so he looked for peacefulness by moving from New York City to live in Cornish, New Hampshire to have a new life and meditate, which he learned from a Buddhist Zen monk. He was married and had two children, but he stayed in a small hut near their house to write, and never published even one of his writings until the end of his life.

Nicholas Hoult as J.D. Salinger in Rebel in the Rye

Despite of the real story of J.D. Salinger, I also want to appreciate how Nicholas Hoult could bring the character alive. I don’t know J.D. Salinger, like how he speaks, think, or gesture, but through Hoult’s acts along the film, I can feel all the nervous and awkwardness when Jerry met Oona, desperation when he was at war, even the struggle moments he had, Hoult expresses it all through his eyes and mimic.

 

And then I was wondering about the 6.6/10 rate from IMDb, I mean, it’s a TOTALLY UNDERRATED MOVIE! Because I’m gonna put 8.5/10 for the story line, cinematography, vibe, and the acts.

 

p.s.: the cover photo credit goes to this website

TH

Bertualang di Kota Kembang [Bagian 2]

[Bagian 1-nya ada di sini]

 

Setelah melewati Tugu Titik Nol Kilometer Bandung, muncul pertanyaan “Mau ke mana lagi nih kita?” dari Stella. Saya yang agak bingung untuk memutuskan akhirnya mengajak Stella untuk bersama-sama mencari tempat tujuan lain hingga Museum Konferensi Asia Afrika (KAA) menjadi tujuan selanjutnya. Pintu masuk yang kecil membuat kami agak ragu untuk masuk, karena masih ada pintu lain mengarah ke Gedung Merdeka yang tertutup rapat oleh pagar besi.

 

Namun, papan pengumuman yang menyatakan bahwa hari itu Museum KAA buka meyakinkan kami untuk masuk dan mendorong pintu. “Tok tok,” celetuk saya, yang disambut oleh penjaga pintu museum dengan senyuman. Ternyata pengunjung tidak perlu membayar sepeser pun untuk menikmati museum yang menerima penghargaan sebagai Museum Paling Menyenangkan tahun 2015 ini.

 

Beragam hasil dokumentasi Konferensi Asia Afrika yang dihelat pada 1955 lalu membuat saya terkagum dengan pencapaian yang pernah dilakukan Bung Karno dan Bung Hatta saat mereka masih menjabat sebagai presiden dan wakil presiden Indonesia. Bagaimana tidak, PM Indonesia, Ali Sastroamidjojo, berhasil mengumpulkan perwakilan dari 29 negara untuk bertemu di Bandung demi mendiskusikan perdamaian dunia.

 

Namun, saya masih agak menyayangkan perilaku pengunjung yang tidak dapat menghormati museum ini. Ketika saya berkunjung, segerombolan anak remaja 13-16 tahun berjumlah 8-10 orang memainkan layar sentuh yang mungkin berisi video pendek rapat KAA, lalu mereka duduk di salah satu kursi aula KAA sembari menaikkan kaki ke senderan kursi di depannya. Kasus lain, tombol untuk memutar pidato pembukaan KAA oleh Bung Karno tidak dapat dimainkan, sayang sekali.

 

Sepulang dari Jalan Braga, Lapangan Gasibu di Jalan Diponegoro adalah tujuan kami selanjutnya. Saat sampai di sana, Stella menjelaskan bahwa dosennya merupakan salah satu desainer lapangan ini. Kunjungan ke Lapangan Gasibu terasa seperti tur bagi saya, karena Stella menjelaskan cukup banyak hal mengenai konstruksi lapangan seluas kurang lebih 6000 m2 tersebut.

Lapangan Gasibu dan Gedung Sate di kejauhan.

 

Kami menghabiskan cukup banyak waktu untuk memilih destinasi selanjutnya hingga waktu menunjukkan saatnya makan malam, di mana Warung Kopi Purnama yang terletak di Jalan Alkateri, Braga menjadi pilihan. Tempat ini menjadi salah satu rekomendasi tempat makan di Bandung, tidak heran, selain sejarah yang dimiliki, Nasi Goreng Purnama yang dibanderol dengan harga Rp30 ribu pun mampu memanjakan lidah. Di sinilah “deep talk” kembali dimulai, bahkan setelah Warung Kopi Purnama tutup, percakapan kami masih berlanjut.

 

Ditemani Stefan, kami bertolak ke Warkop Gemboel Mini (Gemini) yang terkenal sebagai “Warkop yang tidak akan pernah tutup kecuali kiamat” hingga waktu menunjukkan hampir pukul 12 malam dan kami harus kembali ke indekos Stella.

 

Sesampainya di indekos, kami yang sudah berjanji untuk menonton film bersama tetap melaksanakan perjanjian tersebut. Setelah memilih beberapa film, Forrest Gump menjadi pilihan, well, I’ll never regret that choice, karena saya kerap mengingatkan diri sendiri bahwa film tersebut diproduksi di tahun 1994 akibat plot dan pengambilan gambar, serta akting Tom Hanks yang terlihat sangat mengesankan (9/10 dari saya).

 

Di hari terakhir perjalanan ini, saya, Stella, dan Stefan akan kembali ke Jakarta menaiki kereta tujuan Gambir pukul tujuh malam nanti. Kami mengawali hari ini dengan menyantap daging sapi di Se’i Sapi Lamalera yang terletak di kawasan Lebakgede, Coblong, dengan harga terjangkau, misalnya se’i sapi sambal matah yang saya pesan ini hanya dibanderol Rp25 ribu saja! Setelah itu, saya mengajak mereka untuk menonton Deadpool di Ciwalk (akhirnya dapat tiket nonton dari kota lain selain Jakarta!).

Se’i Sapi Sambal Matah, Yum!

 

Waktu kurang lebih menunjukkan pukul setengah lima sore ketika saya dan Stella sampai di indekos. Kami berkemas lalu kembali bertemu dengan Stefan yang sudah menunggu di ujung gang. Saat kami sampai di stasiun, ternyata masih ada waktu untuk santap malam yang akhirnya kami gunakan untuk menyantap sajian dari Hokben.

 

Kereta meluncur sekitar pukul 7:30, melesat melampaui ruang dan waktu hingga menyisakan Bandung dalam ingatan kami, saya hanya dapat menyatakan dalam ingatan bahwa Jalan Ir. H. Djuanda yang dihiasi tiang lampu hijau gelap dan bunga (kembang) merah baru saja menjadi jalanan favorit saya di Bandung.

 

Meski hanya tiga hari, namun waktu yang telah kami jalani tak akan bisa diambil kembali, lalu saya teringat ujaran Pidi Baiq yang dipajang di terowongan Jalan Asia Afrika, “Dan Bandung bagiku bukan cuma masalah geografis, lebih jauh dari itu melibatkan perasaan, yang bersamaku ketika sunyi.

sumber foto: klik pada gambar

 

TH

Bertualang di Kota Kembang [Bagian 1]

Sugar glider bernama Bubble itu sedang tidur ketika saya datang. “Oh ini Stel yang nanti mau lo titipin ke gue?, “Iya, Tin,” ujar Stella, yang hingga saat ini merupakan satu-satunya teman bertualang dan orang yang saya percayai untuk diajak “deep talking”.

 

Demi menempuh pendidikan arsitekturnya, Stella tinggal di Bandung sejak 3 tahun lalu. Ini adalah kesempatan pertama saya untuk benar-benar mengunjunginya, selain sebagai momen refreshing setelah menghadapi UAS, namun juga untuk menjalankan salah satu kebiasaan yang sudah kami lakukan sejak dulu, bepergian bersama.

 

Hari pertama dihabiskan dengan menonton salah satu episode dari serial Inggris bertajuk Black Mirror, lalu pada malam harinya, kami menghabiskan waktu menyantap daging non halal di Sudirman Street bersama dengan dua teman Stella, yakni Stefan dan Hafiz.

 

Esok harinya, kami memulai aktivitas dengan menghadiri perayaan Misa (Katolik) di Gereja St. Laurentius di kawasan Gegerkalong, Sukasari. Ibadah yang khusyuk dan tenang ini menghiasi pengalaman pertama saya menghadiri Misa hingga saya terheran, manusia macam apa yang tega meledakkan bom di tengah ibadah seperti ini.

 

Perjalanan dilanjutkan dengan mengunjungi area pejalan kaki yang cukup terkenal di Bandung, Braga Citywalk atau Jalan Braga. Sebelum memulai kegiatan berjalan secara harfiah ini, kami menyiapkan amunisi berupa Ayam Asap Sambal Matah dari Warung de Harmony dan Es Kopi Awan dari Kopi Toko Djawa, serta seperangkat alat foto seadanya, yakni dua iPhone dan satu Xiaomi Note 4X.

Ayam Asap Sambal Matah dari Warung de Harmony, yum!

 

Pedagang lukisan berjejer di sepanjang Jalan Braga, menjajakan hasil karya visual dengan model gambar yang saling menyerupai, yakni pemandangan laut, sawah, gunung, atau hewan dan tumbuhan seperti ikan dan bunga. Di sanalah kami turut melukis kenangan dengan memotret hampir setiap hal yang tampak, didukung dengan tinta alami, yaitu cahaya matahari.

 

Gedung Kantor Cabang Pusat Bank BJB di Jalan Braga

Di sela-sela tur pendek ini, Stella berujar, “Model gedung ini (Kantor Pusat Bank BJB) namanya Art Deco, karena ada tembok tebal buat pemisah antarlantainya. Nanti di depan sana ada hotel namanya Savoy Homann, di situ ada menara yang mirip kayak gedung ini. Dulu, tempat itu dipake orang-orang Belanda buat mata-matain musuh, kalo ada orang Indonesia yang mau nyerang, bisa langsung ditembak dari sana,” lalu saya merasa agak ngeri namun kagum membayangkan strategi mereka.

 

(Lanjut ke Bagian 2)

Turtles On Turtles On Turtles

Tristin Hartono (14150098)

It’s Turtles All The Way Down (TATWD), another masterpiece of an American writer and video blogger (vlogger), John Green. This story came up with Aza Holmes, the girl who suffers an Obsessive-Compulsive Disorder (OCD) that lives in the north side on Indianapolis. Aza could never handle herself to pressed her right thumbnail into her middle finger’s pad, and that’s why she always covers her right middle finger with band-aid–and she’s kinda addicted to hand sanitizer too, BTW.

 

She lives with her Mom who works as a history teacher in her school, White River High School. Her father died of a heart attack while mowing the lawn when she was around eight, his phone and car (Harold) are the last things she had from her Dad.

 

The story focused on Aza with her Best and Most Fearless Friend, Daisy, looking for a fugitive billionaire, Russel Pickett, who was missing at the night before his raid. Daisy aims the $100,000 reward and she has Aza, who’s kind of had a “thing” with the billonaire’s son, Davis.

 

Through this novel that released at October 2017, Green lets us drown into Aza’s thought about everything, about how she wants to be a good daughter, a good friend, a good student, or maybe a good detective which eventually leads her to a spiral thoughts that keeps tightening.

 

The reader is asked to help its narrator evaluate herself often, which as we all know, we’re our worst and best critic. Also, we’re slowly walking into Aza’s life, how she gets on with every mysterious things she had within herself.

 

The storyline might not only focus on Russell Pickett’s missing, but don’t worry, the ending still worth the read, though. You will find some kinds of relationship through all the characters, like, you’ll find the reason of how an entire estate legacy would be left to a tuatara instead of human.

 

This review might be subjective because I’ve read all Green’s novels (including the two collaboration novels that he took a part of) and I love every single one of them, but I still have at least one thing to criticize the novel.

 

It was about Davis’s life at the end of the novel―no spoilers―that ended up disappointing for me. I mean, I think I started to get a crush on him, though. He’s such a soft, calm, lovely, responsible, and sweet character, the way he talks about the stars and constellations make me wonders about them too, he’s really a smart-but-not-a-nerdy type of guy.

 

At the almost end of story, be ready for the actual meaning of “Turtles All The Way Down”―this is why I told you that the ending is still worth the read. Green has always got surprises for the readers, like how one of the leading characters die of cancer in his previous “The Fault In Our Stars”, or like the ending of Margo’s life in Paper Towns that left my eyes in a little sweet teary (this one is my all-time-favorite-underrated-novel, FYI).

 

Beside writing novels, John Green also does a video blogging (vlogging) with his brother, Hank, since 2007. At their YouTube channel named “vlogbrothers”, John and Hank separately talk about a lot of random things, from books, films, jokes, a protest to education system, until an explanation of President Trump’s budget.

 

Speaking of which, John admitted that Aza Holmes is a totally fictional character that came from his thought of how if someone’s in a particular situation like what Aza is facing at the novel, as he explained in his introduction video of TATWD. He confessed that he had an OCD too, where at particular moments he couldn’t have control on a ‘ship’ called Myself (himself).

(the photo was taken by me)

Over all, I put this 286 paged book on a rate of 9/10 for the simple diction that I enjoyed quite a lot, well I can even see the scenes in my head, though! And the acclaimed, award-winning author of Looking for Alaska and The Fault In Our Stars, John Green, has finally earn another big heart from me.

 

I’m going to end up this review with a quote said by Aza to give a depiction of how despairing it is to have an OCD, it goes like this:

The thing about spiral is, if you follow it inward, it never actually ends. It just keeps tightening, infinitely. – Aza Holmes

 

TH

Featured

Let the Journey Begins

Oh, hello there!

My name is Tristin and I’m currently attending college when I created this blog. The first purpose I made this blog is to post my tasks and some random stuffs that splashed in my mind. You will find a lot of articles I wrote in Bahasa Indonesia, but in the future, I wish I can post some articles in English so everyone can read my writings.

I had another blog before this one, it was a Blogspot site that I created in 2015 with the same purpose as this blog, but several days ago, I got a recommendation from my lecturer, Miss Nanie, to move into WordPress (it’s a lot simpler she said, which turns out I agreed with her, and I love the fonts!)

I got influenced by a singer-songwriter, Greyson Chance, since 2011. I’ve learned a lot of things from that Oklahoman young man, like American culture, alternative music he likes, and also I learned to find my own authentic personality. He taught me to never stop getting up when you’re down through his life experience that I witnessed.

Also, I love to read books, John Green, Mitch Albom, and Dan Brown are the three writers who could blow my mind up. You might say “I know right,” but they’re truly geniuses. For instance, you can read Green’s Paper Towns, Albom’s The Magic Strings of Frankie Presto, and Brown’s (well I haven’t read much though) Inferno—it changes my mind a lot, FYI.

Wish a four paragraphs of description can pay your curiousness about me. Happy reading!

Processed with VSCO with a6 preset
She was not fragile like a flower, she was fragile like a bomb. — Rahul Singh Ratour

P.s.: The beautiful featured image above was taken by my one and only Whitemate, Stella Felicia at Tanimbar Kei, Indonesia.

P.s.s.: The posts I posted before April 20th, 2018 that you might see at the featured posts are from my previous blog. I moved the best ones to here.

Journey of Revealing The Truth

 Tristin Hartono (14150098)

(sumber foto: klik pada gambar)

 “The only way to protect the right to publish, is to publish.”

Kalimat tersebut masih menempel di pikiran saya sejak credit title ditayangkan. Ben Bradlee, yang diperankan oleh aktor kawakan, Tom Hanks, dengan jelas mengucapkan pernyataan itu ketika ia bersikeras ingin menerbitkan berita yang dapat mempertaruhkan nasib perusahaan surat kabar The Washington Post.

 

Mengambil latar waktu di tahun 1971, ketika perang Amerika-Vietnam hampir berakhir, film besutan Steven Spielberg ini  lagi-lagi berhasil mencetak 13 prestasi pada 12 ajang penghargaan film di Amerika. Selain Tom Hanks yang sudah menjadi langganan memerankan film arahan Spielberg, kita dapat melihat hadirnya Meryl Streep yang memegang peran sebagai karakter utama, yakni Katharine “Kay” Graham, penerbit The Washington Post.

 

Selain kedua tokoh di atas, saya turut menyadari keberadaan karakter yang mondar-mandir di beberapa film yang saya tonton seperti Steve Jobs (2015), Doctor Strange (2017), Call Me by Your Name (2017) hingga The Shape of Water (2017), yap, Michael Stuhlbarg, si pemeran tokoh Abe Rosenthal, editor eksekutif harian New York Times.

 

Daftar pujian yang terpampang di poster film membuat pendapat saya menjadi agak subjektif, bahkan sebelum menonton film ini. Ditambah lagi janji dosen kelas Media Online yang dengan antusias mengajak kami sekelas untuk menonton bersama di bioskop. Saya yakin bahwa film ini akan menjadi salah satu film yang menggugah antusias saya, ditambah lagi, plot cerita yang menyinggung media massa dan diperankan oleh aktor yang tak diragukan lagi kemampuannya.

 

Gambaran Plot

Konflik dimulai ketika Daniel Ellsberg (Matthew Rhys) mencuri data negara berisi dokumen perang Amerika-Vietnam yang kini disebut “Pentagon Papers”. Harian The Washington Post (selanjutnya disingkat “The Post”) yang saat itu sibuk dengan masalah peliputan pernikahan salah satu putri Presiden Nixon mendapat kabar bahwa harian The New York Times merilis berita yang menyatakan bahwa Nixon dan beberapa presiden sebelumnya memalsukan informasi perang dan mengirim tentara sebanyak mungkin meskipun pada akhirnya Amerika akan mengalami kekalahan dari Vietnam.

 

The Post menjunjung tinggi peran surat kabar yang harus berimbang dalam menyajikan informasi. Oleh karena itu, Ben Bradlee, sebagai editor eksekutif, merasa berkewajiban untuk merilis berita sesuai fakta yang akhirnya mengantarkan cerita pada perselisihan antara dirinya dengan Frederick “Fritz” Beebe (Tracy Letts), chief officer The Post.

 

Fritz yang tidak terlalu peduli tentang fakta yang seharusnya diungkapkan ke khalayak bersikeras menolak publikasi tersebut, sebab ia lebih fokus terhadap kestabilan saham The Post. Pada titik inilah Kay Graham harus memutuskan, antara mempertahankan kelangsungan bisnis surat kabarnya, atau membiarkan fakta tersebar di masyarakat.

 

Gambar yang ditata dengan apik melalui perspektif (dari penggunaan rule of third), pencahayaan, fokus, dan sebagainya membuat para penonton tenggelam dalam imajinasi sang sutradara. Pasalnya, pada 30 menit pertama saja saya sudah memerhatikan adanya gerakan kamera yang halus membingkai suasana lalu mengikuti objek yang dituju.

 

Sebagai orang awam pun, saya merasa puas dengan hasil tangkapan gambar arahan Spielberg. Meskipun bukan hal kecil, namun keramaian yang terlihat natural di kantor The Post entah kenapa sudah cukup membuat saya merasa puas, termasuk segelintir karakter yang merokok di dalam gedung (bahkan lift), demi menggambarkan suasana kantor surat kabar tahun 70an.

 

Menyinggung Feminisme

Kedatangan Kay Graham di American Stock Exchange. (dok. penulis)

Selain cerita yang berfokus pada dilema yang dialami Kay, saya juga menemukan pelanggaran terhadap paham feminisme. Kay Graham, sebagai tokoh perempuan pertama yang masuk dalam “Fortune 500 CEO in 1972”, saat itu belum memiliki pedoman bertingkah laku di tengah para pria pebisnis sehingga ia melakukan sedikit kesalahan saat pertama kali menghadiri American Stock Exchange yang ditandai dengan gerakan pelan moderator menahan bahu Kay saat ia akan berdiri.

Kay Graham menarik tumpukan berkas dari mejanya. (dok. penulis)

Contoh lainnya adalah ketika Kay sarapan dengan Ben, meskipun pangkat Kay lebih tinggi, namun Ben berani menegur Kay yang menaruh tangan di atas meja makan, lalu diikuti dengan adegan rapat Kay dengan para bankir, saat dia merasa canggung ketika menaruh tumpukan berkas di atas meja yang setelah itu diturunkannya dari atas meja, hingga para bankir yang kompak menganggap remeh sistem perekonomian The Post karena perusahaan itu dipimpin oleh seorang wanita, seperti yang diutarakan Arthur Parsons (Bradley Whitford) usai rapat.

 

Banyaknya karakter perempuan dengan kedudukan yang lebih rendah di masyarakat membuat saya mulai mengagumi sosok Kay Graham. Dia bisa menjadi tokoh perempuan yang stand out tidak hanya di antara perempuan lain, tapi juga di tengah pria dengan kedudukan tinggi. Dia pun dengan lapang dada membiarkan ayah kandungnya memberikan warisan bisnis untuk suaminya, Phil Graham, lalu meninggalkan kehidupannya bersama anak-cucu ketika suaminya harus pergi untuk selama-lamanya hingga mendedikasikan diri untuk terus mempertahankan perusahaan keluarganya. I mean, she’s seriously a strong woman, though!

(dok. penulis)

Meski diderai berbagai pujian, namun saya punya kritik tersendiri untuk film yang satu ini. Menurut saya, film ini kurang cocok jika dijadikan tontonan keluarga dengan anak-anak di bawah umur, karena cerita yang disajikan agak berat dan cukup membuat penonton Indonesia yang tidak mengerti istilah atau merk produk Amerika harus memutar otak sedikit lebih keras, misalnya ketika salah satu bankir yang menghadiri rapat membicarakan tentang Gannett’s Knight Ridder, yakni salah satu perusahaan media surat kabar dan internet yang berhenti berfungsi sejak 2006. See, saya pun harus menjelajahi internet terlebih dulu untuk mengetahui apa yang sedang mereka bicarakan.

(dok. penulis)

Secara keseluruhan, film yang saya beri rating 7.5/10 ini cocok ditujukan bagi penonton yang tertarik dengan film berplot “berat” yang dibumbui sejarah kelamnya Amerika saat dipimpin Richard Nixon, juga sebagai contoh bagaimana hoax sudah ada sejak zaman dulu, serta seberapa besar perjuangan media massa cetak yang menjunjung tinggi kebenaran informasi harus melalui rintangan demi menunjukkan fakta sebenarnya. Presumably, this is a film about the journey of revealing the truth!

TH

Imlek: Tradisi Penuh Makna

sumber: antvklik.com

Musim semi sudah datang! Inilah saatnya bagi para petani di China untuk segera melakukan perayaan besar. Festival kebudayan ini sudah menyebar hingga ke Indonesia, Tahun Baru Imlek namanya. Di China, festival ini diadakan untuk merayakan hari pertama musim semi.

Tak hanya masyarakat etnis Tionghoa, namun hampir seluruh kota besar di Indonesia turut memeriahkan acara kebudayaan ini. Misalnya rangkaian ornamen yang didominasi warna merah dapat kita lihat meramaikan tempat tertentu seperti pusat barang grosir (khususnya Jakarta Pusat), bank, hingga beberapa pusat perbelanjaan.

Bagi etnis Tionghoa sendiri, momen Imlek digunakan sebagai kesempatan untuk bertemu dan bercengkrama dengan anggota keluarga yang jarang ditemui. Nah, saya yang sudah merayakan Imlek sejak kecil pun tak menyia-nyiakan kesempatan ini. Yap, angpao!

Amplop khas berwarna merah yang biasanya dihiasi oleh motif atau gambar lucu ini memiliki daya tarik tersendiri untuk setiap orang. Mulai dari desain hingga jumlah isi angpao adalah hal yang disukai setiap orang yang menerimanya.

Selain angpao, masih banyak aksesoris lain yang “menghiasi” Tahun Baru Imlek, sepertibarongsai, pakaian baru berwarna merah, pohon dengan bunga sakura yang diberi hiasan angpao, lampion kertas yang digantung di langit-langit rumah, dan tak lupa, ragam hidangan khas Tionghoa yang disajikan dalam jumlah besar.

sumber: surabayatimes.com

Hidangan Khas Imlek
Perayaan Imlek berlangsung selama 2 hari atau lebih, tergantung seberapa banyak keluarga yang harus dikunjungi. Di hari pertama, tuan rumah yang melakukan open house biasanya menyajikan banyak makanan ringan (snack) hingga makanan berat.

Makanan khas yang wajib ada saat Imlek adalah beragam jenis kue kering, seperti kue nastar, kue putri salju, kastengel, lidah kucing, dan kue kacang. Selain itu, hidangan utama yang biasanya terdiri dari mi, seafood, dan berbagai jenis daging halal dan non halal pun tak boleh ketinggalan.

Tak hanya beragam, beberapa makanan khas ini juga memiliki nilai tersendiri. Contohnya adalah kue nastar yang melambangkan keberuntungan. Berasal dari Bahasa Hokkian, “ong lai” yang secara harafiah berarti pir emas, kue nastar juga berarti keberuntungan datang. Warna emas yang terpancar dari kue nastar, serta lembut dan manisnya nanas dalam balutan adonan kue melambangakan rezeki berlimpah. Semakin banyak isi nanas, semakin berlimpah juga rezekinya.

Selanjutnya ada mi goreng yang berarti anugerah umur panjang, kebahagiaan, dan rezeki melimpah bagi setiap orang yang memakannya. Selain kue dan hidangan utama, ada juga jeruk yang disajikan bersama daun dan tangkainya. Jeruk yang berwarna emas dan agak berat diartikan sebagai emas, sedangkan adanya tangkai dan daun berarti kemakmuran dan kesejahteraan yang akan selalu tumbuh.

sumber: asumsi.co

Ritual Keagamaan
Tahun Baru Imlek identik dengan ritual salah satu agama yang diakui di Indonesia, yakni agama Budha. Saat hari pertama Imlek, umat Budha biasanya mengunjungi kelenteng atau vihara di pagi hari untuk melakukan sembahyang kepada leluhur. Setelah itu, akan ada beberapa anak remaja yang menampilkan pertunjukkan barongsai di sekitar kelenteng atau vihara.

sumber: kelanakota.suarasurabaya.net

Kata “barongsai” berasal dari gabungan 2 bahasa, yakni Bahasa Bali dan Tionghoa dialek Fujian (Hokkien). Secara etimologis, barongsai terbagi menjadi 2 kata, “Barong” (Bali) dan “Sai” (Tionghoa), yang sama-sama berarti “singa”.

Wu Chenxu, Guo Licheng dan Ye Deming dalam bukunya Zhongguo de Fengsu Xiguan(Taipei, 1977) mengatakan bahwa bangsa Tionghoa adalah bangsa yang mengutamakan kebersamaan dan tidak bersifat individualis. Pertunjukkan barongsai yang melibatkan belasan orang adalah salah satu contohnya. Setiap pemain barongsai memiliki tugas masing-masing.

Tidak ada tugas yang tidak lebih penting dari yang lainnya. Satu tim barongsaimembutuhkan 2 hingga 3 orang untuk membawakan tarian dengan kostum singa, lalu ada anggota lain yang memainkan alat musik khas, seperti simbal (cai-cai), gong (nong), dan tambur. Setiap anggota tim harus saling kompak memberikan pertunjukkan, di sanalah kerja sama dan kekompakan dibutuhkan.

sumber: telegraph.co.uk

Perayaan Pasca Imlek
Selama seminggu sejak hari pertama perayaan Imlek, masyarakat etnis Tionghoa tidak diperbolehkan untuk menyapu atau membersihkan rumah mereka. Konon katanya, jika kita menyapu rumah berarti menyapu (mengusir) rezeki yang datang saat Imlek berlangsung.

Lima belas hari setelah Tahun Baru Imlek, ada perayaan lagi yang dirayakan, yaitu Cap Go Meh. Secara harafiah, Cap Go Meh berarti “lima belas malam”, berasal dari dialek Hokkien. Ini adalah hari terakhir perayaan Imlek, di mana etnis Tionghoa melakukan tradisi makan onde dan kue keranjang.

Kue onde yang berbentuk seperti bola dengan taburan biji wijen di luarnya akan mengembang ketika digoreng, ini melambangkan keberuntungan yang semakin bertambah seiring “dimasak”, sedangkan kue keranjang atau “Nian Gao” yang berarti kue tahunan juga mempunyai artinya tersendiri.

sumber: indonesia-tourism.com

Secara filosofis, kue keranjang yang terbuat dari tepung ketan dan memiliki sifat lengket memiliki arti persaudaraan yang sangat erat dan menyatu. Rasa kue keranjang yang manis juga menggambarkan rasa suka cita dan kegembiraan.

Bentuk kue yang bulat dan tak bersudut juga mempunyai maknanya tersendiri, bentuk ini melambangkan hubungan keluarga yang tidak melihat ada yang lebih penting selain keluarga dan akan selalu bersama tanpa batas waktu.

Imlek – Tradisi Penuh Makna
Zaman boleh berubah, generasi akan berganti seiring waktu, umur akan semakin berkurang yang berarti momen berkumpul kembali dengan sanak saudara akan berkurang, namun sifat tahan lama kue keranjang dapat mewakili pesan yang harus diingat setiap generasi etnis Tionghoa; hubungan keluarga akan tetap abadi meski zaman sudah berganti.

TH