Berakhir Pekan di Surganya Indonesia

Tristin Hartono (14150098)

Oktober, 2017, ketika saya bersama teman-teman iseng merencanakan perjalanan ini, “Bangkok?”, “Jogja aja,” “Nggak ah, Jogja lebih horor daripada Bali, “Kalau gitu kita ke Bali aja! “Atau mau ke Malang?” percakapan ini berlanjut, sehingga masih di bulan yang sama, pesawat dengan penerbangan Jakarta-Denpasar dan sebaliknya di tanggal 2 dan 4 Februari sudah terpesan untuk 5 orang.

 

“…and welcome to Bali.” Tutup seorang wanita dari pengeras suara di pesawat yang memecah keheningan di otak saya, menguapkan memori yang teringat ketika perjalanan ini hanya sebuah guyonan belaka.

 

Kami sampai di pintu kedatangan ketika seorang tour guide yang juga teman salah satu ‘wali’ (pembina kegiatan gereja‒red) kami menyambut dengan senyuman. “Kenalin, ini namanya Ko Puji,” ujar pembina wanita kami, Ci Feciana. Mengikuti budaya kami semua, yakni etnis Tionghoa, adalah hal biasa untuk memanggil “Cici” dan “Koko”.

 

The Adventure Begins

Perjalanan ini diawali dengan santap siang di Warung Cahaya yang menyediakan hidangan non-halal. Lalu setelah melakukan check-in di hotel, perjalanan dilanjutkan dengan mengunjungi Pantai Canggu di Kuta Utara. “Akhirnya, udara pantai!” saya membatin. Saat itu matahari masih tinggi, yang untungnya berbanding lurus dengan semangat kami.

 

Angin yang berembus pelan melahirkan deburan ombak yang tenang, hingga mengantarkan saya pada ketenangan sementara dari hiruk pikuk Kota Jakarta. Meski pasir pantai terlihat agak kotor dan berwarna gelap, namun view berupa anjing liar yang tinggal di pura dekat pantai membuat saya dapat melihat, bagaimana anjing dapat hidup berdampingan dengan manusia.

 

Setelah beberapa kali mengambil swafoto bersama, tiba-tiba

Stanley dan pemiliknya sedang bermain di pantai (dok. penulis)

seekor anjing ras besar berwarna hitam mendatangi saya. Sembari menggigit botol minum bekas berisi sedikit pasir, ia melepaskan gigitannya, membiarkan botol itu terjatuh di kaki saya.

 

Meski belum kenal, namun anjing betina yang akhirnya diketahui bernama “Stanley” ini tidak berusaha menghindar atau menggigit ketika saya usap kepalanya. Kode yang ia kirim saya jawab dengan mengambil botol yang ia berikan, lalu melemparnya ke arah laut. Ia berlari dengan semangat, mengambil botol mainannya tersebut, lalu kembali ke kaki saya melakukan hal yang sama.

 

Perjalanan dilanjutkan dengan menikmati gelato yang konon hanya ada di Bali, sebab sisanya hanya ada di luar Indonesia, Gusto Gelato namanya. Harga yang ditawarkan pun setara dengan lezatnya varian rasa es krim yang beragam, mulai dari spicy chocolate, hingga lemongrass (sereh) dan kemangi.

Salah satu menu Gusto Gelato, yum! (sumber: klik pada gambar)

 

 

Hari pertama di Bali ditutup dengan berbelanja di Krisna, Kuta, di mana sebelumnya kami sudah menyantap Soto Bakso Warung Wijaya. Saya sangat menyarankan Anda untuk mencoba soto bakso yang terdapat di Jalan Kuta Raya ini jika Anda adalah penyuka soto daging, sebab kuah yang disajikan sangat khas dengan tambahan daging dan bakso sapi yang kenyal dan juicy.

 

Burn the Skin!

Di hari kedua, kami mengunjungi tempat yang tak terduga. Sejak meninggalkan hotel, saya terlelap akibat didukung cuaca agak mendung, dan menyerahkan rencana perjalanan kepada Ci Feciana dan Ko Puji. Selang beberapa waktu, saya dibangunkan dengan penampakan tebing kapur yang menjulang tinggi dan lebar menghiasi jalanan.

 

Setelah mengikuti jalan menanjak ke arah puncak tebing, tampaklah proyek megah setinggi 120 meter yang melibatkan ratusan seniman dan ‘trailer’nya sudah ada sejak 1997 di Desa Ungasan, Kuta Selatan. Ya, patung Garuda Wisnu Kencana (GWK)… dari jarak dekat! Meski patung ini terkenal, namun belum banyak wisatawan yang bertandang ke tempat ini.

Patung Garuda Wisnu Kencana (dok. penulis)

Perjalanan dilanjutkan ke Pantai Melasti. Namun, mobil terhenti di pinggir jalan. Ko Puji mengiyakan permintaan kami untuk berfoto di jalan aspal dekat Banyan Tree Chapel yang dihiasi dengan pepohonan dan tebing kapur. “Yuk, kita naik tangga dekat sini,” ujarnya setelah kami selesai berfoto.

Jalan di Pinggir Banyan Tree Chapel (dok. penulis)

Awalnya saya bingung, sebab pantai tujuan kami sudah terlihat di depan mata dan kami seharusnya turun ke arah pantai, bukannya naik. Namun, saya hanya mengikuti arahan tour guide. Bagi Anda yang kurang kuat menanjak tangga dan tidak berani dengan ketinggian, tur ini kurang disarankan.

Tangga menuju Tebing Kapur Melasti. Berani mencoba? (dok. penulis)

Kami mendaki kurang lebih hampir 100 anak tangga, lalu menapaki jalan setapak dengan bebatuan licin, dan kami sampai di bebatuan karang terjal nan tinggi. Inilah yang disebut dengan surga yang terletak di balik tebing kapur berkelok. Cahaya matahari yang bersembunyi di balik awan sirostratus dan deburan ombak dari bawah sana menjadi pelengkap tur Pantai Melasti ini.

 

Asik berfoto di tebing tak membuat kami melupakan tujuan utama, pantai! Kami kembali ke mobil, lalu Ko Puji mengantarkan kami ke ujung pantai Melasti yang benar-benar tidak dijamah pengunjung. Tidak heran, pantai kecil yang dihiasi aspal yang hancur terkena abrasi ini sepertinya sering pasang ketika hujan, dan pasir hitamnya didominasi oleh batu besar, sayangnya, hanya saya yang menyukai suasana ini.

Bagian ujung Pantai Melasti, hampir tak terjamah manusia (dok. penulis)

Berkeliling Discovery Mall, berbelanja sandal yang hanya tersedia di Bali, Fipper, dan menyantap Babi Guling Bu Dayu menjadi penutup di hari kedua ini. Rasanya saya masih butuh beberapa hari lagi untuk berkelana menjelajahi Bali. Namun, waktu berkata lain, saya harus segera berkemas agar esok pagi dapat pergi ke gereja dan meninggalkan hotel lebih cepat.

Good Bye Bali

Sepulang dari gereja, kami menyantap sarapan sate babi di Jalan Buni Sari, lalu melancong ke toko snack kekinian, Rasalokal, dan lanjut ke Beachwalk, Kuta, sebelum akhirnya makan Nasi Tempong Indra di Jalan Dewi Sri, Legian, dan mengakhiri perjalanan kami di Bali.

Salah satu view dari Beachwalk Kuta (dok. penulis)

Overall, perjalanan pertama ke Bali selama 3 hari 2 malam ini cukup berkesan bagi saya yang menyukai petualangan di tempat yang tidak terlalu ramai. Meskipun saya tidak terlalu menikmati wisata kuliner dan merasa kurang puas karena tidak mengunjungi pura karena berhalangan, namun kebersamaan di perjalanan adalah hal yang saya utamakan walau harus membiarkan kulit saya terbakar akibat harus mengabadikan momen terbaik kami.

Bonus! Hasil swafoto di Pantai Canggu ditemani teriknya matahari (dok. penulis)

Jika Anda berminat untuk melakukan perjalanan ke Bali bersama rombongan kecil dan ingin lebih mengeksplor tempat-tempat unik yang mungkin sangat jarang dikunjungi wisatawan, Anda dapat menyewa jasa tour guide Ko Puji dengan menghubungi nomor WhatsApp +62-818-0886-3212/+62-813-5366-1688. Dengan harga bersahabat, Anda sudah dapat berkeliling Bali dan mendapat teman tour guide baru lho, hihihi…

TH

Cara Melatih Labrador: Si Detektif Berkaki Empat

Tristin Hartono 14150098

Lincah, berbulu pendek, memiliki moncong yang agak menonjol, cukup tinggi dan kokoh, serta kesetiaan yang melekat pada sifat alaminya membuat manusia tertarik untuk memelihara. Sudah dikenal sebagai sahabat baik manusia sejak ribuan tahun lalu tak membuat hewan yang satu ini lantas menjadi “angkuh” layaknya kucing.

Bayi Labrador. (sumber foto: klik pada gambar)

Hubungan baik yang terjalin antara manusia dengan anjing terus “dibina” melalui pelestarian hingga akhirnya lahir berbagai jenis anjing dengan ras berbeda, misalnya Labrador Retriever. Ras anjing asli Inggris ini kini memiliki beberapa jenis ras lain, misalnya American dan English Labrador Retriever.

 

Bentuknya yang simpel dengan mimik innocent membuat pecinta anjing terpikat olehnya. Sejak kecil, anjing Labrador atau yang biasa disingkat Labs ini memiliki postur tubuh mini serta bulu pendek yang halus dan lembut, dengan kaki pendeknya ia suka berlari dan melompat di tengah rumput pekarangan rumah.

 

Saat bertumbuh besar, kaki pendeknya akan memanjang, lemak berubah menjadi otot dan tampilan chubby perlahan menghilang, digantikan tampilan sosok yang berwibawa. Hal inilah yang menjadi keuntungan pemilik Labs karena tidak perlu terlalu sering ke salon untuk memelihara bulu yang panjang.

 

Perbandingan Labrador kecil dan dewasa. (sumber foto: klik pada gambar)

Di samping itu, otak Labs yang terbilang cukup pintar pun memudahkan pemilik dalam melatih anjing ini melakukan berbagai hal, mulai dari peraturan buang air, hingga mencari sumber bau. Tak heran,  anjing ini biasa digunakan polisi Amerika dalam menyelidiki letak narkoba.

 

Lantas, bagaimana cara kita mengajari Labs tanpa pelatih profesional? Pertama, sediakan benda yang paling menarik hati si anjing, seperti bola, boneka handuk, mainan dari kayu, atau botol plastik. Latihan lebih efektif di malam hari saat indera penglihatan anjing melemah dan indera penciuman bekerja lebih kuat.

Latihan dilakukan di lapangan yang jauh dari kebisingan. Bila melatih lebih dari 1 anjing, usahakan posisi anjing berjauhan. Pancing anjing agar mendekat dengan menunjukkan mainan yang disukainya.

 

Tepuk tangan kiri pada paha agar ia berpindah ke samping kiri pelatih. Lanjutkan dengan aba-aba untuk mengajaknya berjalan dengan pelatih. Gunakan isyarat tangan untuk memperlancar komando.

 

Ulangi perintah beberapa kali hingga ia mau berhenti. Kemudian tekan bagian pinggul agar anjing mau duduk. Bila terbukti dilaksanakan dengan sempurna jangan segan-segan memberikan pujian.
Setelah latihan dasar dikuasai, latihan lanjutan bisa dilakukan. Perintahkan anjing menunggui suatu lokasi tertentu seperti rumah, toko, atau gedung. Itu merupakan latihan lanjutan dari perintah stay atau tinggal. Suruh ia menggonggong bila ada orang asing mencurigakan.

 

“Jika anjing telah mahir menjadi penjaga, mulai perkenalkan bekal latihan menjadi detektif. Kenalkan bau kokain, morfin, dan jenis narkoba yang lain ke arah indera penciuman secara rutin. Tunjukkan benda berbau itulah yang akan menjadi target pencarian.” Ujar Hanni Sofia melalui situs anjingras.com.

Jadi, bagaimana? Apakah Anda tertantang untuk melatih anjing Labs Anda sendiri?

Labrador dewasa. (sumber foto: klik pada gambar)

TH

Pembakar Lidah, Penggugah Selera

Oleh Tristin Hartono (14150098)

 

Sang surya telah membenamkan diri di ufuk barat, menandakan sore hari telah tiba, waktunya kedai-kedai pinggir jalan di bilangan Kelapa Gading memulai aktivitas. Kebalikan dari para pekerja yang menyelesaikan pekerjaan dan pulang ke rumah, para pekerja di sini memulai aktivitas mencari peruntungan mereka di sore hari.

 

Salah satu kedai dengan area bengkel sebagai latar belakang menarik perhatian saya untuk mencicipi keunikan rasanya. Adalah Kedai Abnormal yang biasa menyajikan mi instan dengan rasa pedas berlevel namun diperlengkap dengan konsep unik.

 

Canda tawa tetap mengalir di setiap peluh yang menetes, senyuman pun tak pernah absen dari wajah mereka, rasa hangat kekeluargaan sangat terlihat di antara para pekerja kedai yang memulai aktivitasnya mulai pukul 7 malam ini. Mereka mempersiapkan diri seiring bertambahnya parkiran kendaraan di pinggir jalan.

 

Suasana masih terlihat agak lengang ketika saya dan teman-teman menapakkan kaki di tempat ini, kursi nomor empat dipilih sebagai arena untuk menguji kekuatan. Tak lama setelah kami duduk, kursi-kursi lain mulai dipenuhi oleh pengunjung.

 

Pelayan mulai membagikan bon dan sebuah pen untuk diisi dengan menu yang sudah dapat dipilih sendiri. Menu yang tergeletak di atas meja mempermudah pengunjung untuk memilih dan menulis menu yang hendak mereka nikmati. Nantinya, pesanan kami akan diambil tepat mulai pukul 7 malam.

 

Tidak hanya letak tempat yang unik, kedai ini juga dilengkapi dengan meja yang berbeda dengan kedai lain. Meja yang digunakan hanya selembar kayu tipis dicat hitam dengan keempat kaki berwarna serupa. Atap berupa terpal berwarna kuning menjadi pelindung bagi pengunjung ketika hujan.

 

Penantian pun berakhir, setelah menunggu kurang lebih 15 menit, makanan kami akhirnya datang. Semerbak mi instan terasa ketika pelayan menaruh kuali berdiameter 15 cm dan panci kecil berisi mi yang melewati wajah saya ke arah meja. Tidak hanya mi goreng, mi kuah pun terlihat menggugah selera.

 

Inilah salah satu keunikan lain dari Kedai Abnormal. Tidak ada mangkuk atau piring yang digunakan sebagai wadah untuk makanan, namun mereka menyajikan langsung di panci untuk mi kuah, dan wadah kuali untuk mi goreng.

Mi kuah level 5 milik salah satu teman saya

Pesanan saya datang terakhir, yaitu “Indomie Goreng Abnormal Level 3 + Keju” (lihat Featured Image di atas). Hmm, rasa penasaran pun menjadi-jadi ketika saya melihatnya secara langsung. Dipercantik oleh sayuran hijau, telur urak-arik di ujung kuali, dan parutan keju menggunung di atasnya, membuat mi dan sambal akhirnya “tersembunyi” dari penglihatan.

 

Rasa lapar saya lantas memuncak ketika menyadari adanya pangsit goreng di bawah keju, sendok saya pun segera menyambar, memecah pangsit tersebut dan sumpit mulai memungut remah-remahnya bersama dengan keju yang sedikit menggumpal. Setelah selesai icip-icip penghias mi, waktunya saya menuju hidangan utama.

 

Sebenarnya saya kurang suka dengan makanan kekinian yang ekstrim seperti ini, namun rasa penasaran mengalahkan semuanya itu. Agar tidak terlalu terasa pedas, saya mengaduk isi kuali tersebut supaya rasanya tercampur. Lalu akhirnya sejumput mi mendarat di sumpit hijau saya.

 

Ketika masuk ke mulut, saya mencari rasa keju yang seharusnya tercampur, namun ternyata, rasa asin dan pedas dari perpaduan mi dengan sambal mengalahkannya. Lidah saya terasa agak “syok” karena sudah lama tidak merasakan makanan yang sangat pedas. Akhirnya rasa pedas dan asin mendominasi mulut saya.

 

Benar saja, mata saya mulai berkaca-kaca dan terlihat butiran air yang menggenang lalu jatuh ke pipi. Saya pikir saya akan menyerah, namun ternyata rasa pedas yang nagih membuat saya terus melahap setiap suap mi hingga habis.

 

Keunikan selanjutnya terdapat pada minuman yang disajikan. Ada dua pilihan ukuran di hampir setiap judul minuman, yakni “Normal” dan “Abnormal”. Tak hanya itu, dalam daftar, bisa juga kita temui judul minuman yang unik, seperti Sunlight, Lifebuoy, bahkan Kobokan.

 

“Untuk yang abnormal, dia minumnya di bucket atau di ember,” jelas Rizki, salah satu pelayan Kedai Abnormal ketika kami wawancarai,” wajah sumringahnya membuat pelanggan merasa dianggap seperti teman mereka sendiri.

 

“Untuk kobokan sendiri (dibuat dari) perasan jeruk nipis, di-mix sama gula secukupnya, kemudian untuk Lifebuoy, (isinya) ada Marjan cocopandan, tambah perasan jeruk nipis, ditambah biji selasih, untuk Sunlight (berisi) Marjan melon tambah irisan jeruk nipis,” imbuhnya.

 

Sejarah Kedai Abnormal

Kedai Abnormal dibuka sejak 24 September 2014 oleh empat orang yang menginginkan tempat nongkrong untuk melepas penat setelah bekerja, dua di antaranya memegang kendali di Kelapa Gading, yakni Reinhard dan Noveria. Mereka akhirnya berencana untuk membuat usaha baru daripada hanya nongkrong dan menghabiskan uang.

 

Nama “Abnormal” sendiri dipilih karena unik. “Untuk pendapat saya sendiri, ya, karena terlihat dari pekerjanya sendiri tuh, dia (pelayan) memiliki ciri khas masing-masing, ada yang, ya seperti yang terlihat lah pokoknya (bertato, perokok, putus sekolah), agak nggak normal gitu lah, bagian kehidupan dan kepribadiannya,” ujar Rizki.

 

Sejak mulai dibuka 2 tahun lalu, kini Kedai Abnormal sudah memiliki cabang. Berpusat di Kelapa Gading, mereka juga membuka cabang yang masih dalam kotamadya Jakarta Utara, yakni di daerah Muara Karang.

 

Harga hidangan terjangkau yang dibanderol mulai dari Rp8 ribu hingga Rp35 ribu menjadi magnet bagi para pemburu makanan unik untuk mencoba hidangan dari kedai ini. Oleh karena itu, pengunjung yang datang bervariasi, mulai dari kalangan remaja, dewasa, bahkan keluarga yang membawa anak kecil.

 

Tak hanya mi pedas berlevel, disini juga tersedia roti panggang bertekstur lembut namun garing dengan berbagai rasa yang siap menggoyang lidah Anda, harganya pun cukup worth it, yakni mulai Rp8 ribuan.

Roti bakar keju
Roti bakar cokelat+oreo

 

 

 

 

 

 

 

Tertarik mencoba? Saya menyarankan agar Anda datang beberapa menit sebelum pukul 7 malam, karena tempat duduk di kedai ini sangat cepat terisi. Jangan lupa, ajak orang-orang terkasih Anda untuk saling berbagi rasa, canda, dan tawa. Selamat mencoba.

TH

Bentangan Lembah di Utara Bandung

Oleh Tristin Hartono

Matahari pagi kemerahan merambah celah dedaunan hijau yang tergantung lemas. Ladang sawah yang membentang di tengah tebing menampakkan wujudnya menandakan tanaman siap dipanen. Tak hanya itu, kegiatan wisata juga hampir dimulai, ditandai dengan bertambahnya jumlah pesepeda yang mengayuh kendaraan mereka ke arah puncak.

Di sanalah Dedi melakukan perjalanan bersama rekan dan istrinya menikmati ciptaan Tuhan yang baru mereka ketahui ini. Membayangkan hasil pemandangan yang akan didapatnya nanti membuatnya semakin semangat melangkah. Berharapkan jerih payah yang ia keluarkan dapat terbayar dengan sajian alam yang menakjubkan, Dedi tetap melekukan senyum penuh semangat sembari melewati jalan setapak itu.

Jalan berliku itu memang selalu membuat wisatawan tertantang untuk segera mencapai puncak demi menyaksikan keagungan Ilahi tersebut. Kabut yang menyelimuti rumah penduduk seolah mendekap hamparan sawah dan mulai terangkat bagaikan terangkatnya selimut yang mendorong mereka memulai rutinitas. Udara segar pagi yang mengalir di sekitar Tebing Keraton tak pernah gagal memacu semangat penduduk untuk terus bekerja.

Pohon-pohon menjulang tinggi di sebelah kiri jalan yang harus dilalui wisatawan untuk mencapai puncak. Jika wisatawan tidak ingin merasa lelah atau tidak kuat dengan perjalanan menanjak yang panjang, mereka dapat menyewa ojek yang dibandrol Rp25 ribu untuk satu kali perjalanan.

Sebenarnya perjalanan tersebut dapat ditempuh dengan mobil, namun kendalanya terdapat pada jalanan yang belum selesai diperbaiki, sehingga wisatawan mau tidak mau harus menempuh lagi perjalanan dengan berjalan kaki sejauh 3 KM. Tapi tidak perlu khawatir, pasalnya, matahari yang bersinar tidak terlalu terik dan udaranya juga tidak pengap seperti di kota.

Tantangan terberat yang harus dihadapi wisatawan yaitu tanjakan terakhir yang kemiringannya kurang lebih mencapai 150 derajat. Namun tak perlu cemas, pintu masuk Tebing Keraton sudah berdiri tegak di depan mata. Para pedagang makanan kecil dan air mineral juga siap sedia melayani permintaan pengunjung yang kelelahan. Jika sudah cukup melepas lelah, kita bisa langsung masuk ke area wisata.

Pintu gerbang yang dibuat dari batu melengkung di atas permukaan aspal. Kita dapat membeli tiket masuk dari loket yang berada di pintu masuk. Dengan membayar Rp11 ribu untuk wisatawan domestik dan Rp76 ribu untuk wisatawan asing, pengujung sudah dapat menikmati indahnya pemandangan hutan lindung dari tebing yang diberi pagar kayu.

Sedikit berjalan masuk setelah pintu gerbang, terdapat sebuah gazebo yang dilengkapi dengan meja dan kursi kayu agar pengunjung dapat merasa seperti sedang berada di alam bebas. Di sana pengunjung dapat bercengkrama sambil menikmati bekal yang mereka bawa, atau bisa langsung melewati jalan setapak menuju ujung tebing yang dihiasi pohon dan rerumputan serta  terdapat batu-batu besar yang terlihat unik karena hanya dapat dijumpai di ujung tebing.

Setelah sampai di ujung tebing, kita dapat melihat pemandangan alam yang membentang dari kiri ke kanan sejauh mata memandang. Di sebelah kiri, pemandangan didominasi dengan pegunungan yang hampir penuh dihiasi pohon pinus dan berlanjut sampai ke arah tengah tebing. Lalu di sebelah kanan, kita dapat melihat setengah hutan pinus yang semakin apik ditambah hamparan sawah dan segelintir rumah penduduk.

Sejarah Tebing Keraton

Tebing Keraton dibuka menjadi tempat wisata sejak bulan Agustus 2014. Terletak di daerah Patahan Lembang, area wisata ini satu paket dengan Taman Hutan Raya Ir. H. Djuanda yang dibagi juga menjadi beberapa blok, yaitu Monumen Ir. H. Djuanda, Curug Dago, Museum Ir. H. Djuanda, outbond, Goa Jepang, Goa Belanda, Curug Omas, penangkaran rusa, dan Curug Koleang.

Nama “Tebing Keraton” berasal dari komunitas mahasiswa pesepeda dari Jogja yang datang ke tebing ini lalu mengunggah foto tebing beserta kegiatan mereka ke media sosial dan memberi nama Tebing Keraton. Sejak saat itu nama Tebing Keraton menjadi semakin dikenal oleh masyarakat luas dan pengunjung mulai datang bergerombol untuk bersepeda atau hanya menikmati pemandangan alam.

Processed with VSCO with preset
Hutan dan pegunungan yang terbentang di sebelah kanan tebing. (Dok: Penulis)

Area ini diambil menjadi tempat wisata karena pemerintah dan dinas kehutanan setempat khawatir jika pengunjung semakin banyak dan area ini masih terlantar, tempat ini akan dirusak oleh manusia yang tidak bertanggungjawab. Jadi, sebaiknya pemerintah membuat area tebing ini menjadi tempat wisata dan dijaga dengan baik sebelum terlanjur dirusak.

Jika dihitung dari mulai diresmikan sebagai tempat wisata pada Agustus sampai Desember 2014, jumlah pengunjung yang datang ke Tebing Keraton ada sekitar 500 sampai 700 orang termasuk hari Sabtu dan Minggu. Dibuka mulai pukul 4:30 pagi, area ini tak pernah sepi pengunjung sampai waktunya ditutup pada pukul 6 sore.

Prospek ke Depan

Menurut Iwa Kartiwa, Kepala Pengelola Tebing Keraton, jika sebuah kawasan wisata belum berjalan selama 5 tahun, maka masih dianggap baru dan membutuhkan adanya pembangunan, misalnya toilet, jalanan, serta sarana, dan pra-sarana. Sedangkan jika sudah melebihi 5 tahun, maka disebut perbaikan, sedangkan Tebing Keraton yang baru berjalan hampir 2 tahun masih memerlukan banyak penambahan fasilitas, seperti jalanan setapak yang tidak licin dan berbatu, shelter untuk kendaraan, gazebo, serta camping ground.

Ke depannya, pihak Tebing Keraton rencananya akan membuat lampu penerangan di jalan setapak dalam area wisata, “Tebing Keraton ini ada rencana dibuka untuk malam juga, karena kita sebagai pengelola lapangan dan pihak terkait di lapangan sudah mengukur jalan untuk lampu penerangan,” ujar Iwa. Tujuannya, yaitu agar jika sudah dibukanya wisata malam, wisatawan dapat berjalan tanpa direpotkan oleh penggunaan senter atau alat penerangan lain.

Tidak hanya fasilitas, mereka juga bertekad untuk memberikan pengamanan wilayah yang lebih intens melalui tenaga kerja yang dapat berinteraksi secara baik dengan masyarakat. Oleh karena itu, pihak Tebing Keraton merekrut anggota penjaga keamanan yang mumpuni, misalnya partisipan dari masyarakat.

“Ada masyarakat sekitar sini yang tergabung dalam partisipatif. Partisipatif itu adalah sekelompok masyarakat atau perwakilan dari desa yang diperbantukan oleh dinas kehutanan,” jelas Iwa.

Melalui tim perwakilan dari desa untuk menjaga keamanan Tebing Keraton, diharapkan agar hubungan antara penjaga Tebing Keraton dengan masyarakat di lingkungan sekitarnya tidak terlihat begitu kaku atau canggung karena kebanyakan dari mereka sudah cukup mengenal satu sama lain.

Processed with VSCO with preset
Dok: Penulis

Nah, jika Anda memiliki rencana untuk pergi berlibur ke Bandung, khususnya di Bandung Utara, tidak ada salahnya jika nama Tebing Keraton tercatat dalam daftar tujuan wisata Anda.

TH