The Alchemist; Makna yang Menular dari Kisah ‘Si Anak Lelaki’

Hi, I’m Asep Testing a wandering writer with one foot in creative chaos and the other in corporate deadlines.

[Originally written in 2021]

Namanya adalah Santiago, seorang anak yang kisah kehidupannya membuat saya meninggalkan tanda centang pada daftar resolusi yang tidak pernah saya buat karena rasa pesimis; membaca buku. Mengingat daftar resolusinya pun tak pernah dibuat, cerita Santiago menjadi sesuatu yang terlihat sia-sia untuk dilakukan. Tapi, toh tak ada hal yang sia-sia di dunia ini, ‘kan?

Berawal dari ajakan meet up sehari sebelum Hari Raya Idul Fitri 2021, saya secara spontan (uhuy) mengajak teman-teman lain untuk mengunjungi Gramedia di salah satu mal di Jakarta. Entah berapa lama saya sudah tak pernah mengunjungi toko yang wajib dikunjungi setiap saya pergi ke mal ini, rasanya seperti cucu yang nongkrong di cafe dekat rumah nenek tapi tidak mengunjungi rumah nenek.

Saat itu saya hanya ingin mencari alat kreasi untuk membuat DIY sampul buku catatan. Namun, hati saya berkata lain. Ketika melihat deretan buku Paulo Coelho yang dipajang di pojok rak buku, saya segera melirik buku yang entah berapa tahun lalu ingin saya miliki namun belum pernah kesampaian.

Akhirnya, tanpa berpikir panjang, saya mengambil barisan paling depan “The Alchemist” atau “Sang Alkemis”. Saya benar-benar tak peduli jika buku ini disajikan dalam bahasa terjemahan; Indonesia. Lagipula, mungkin saya akan pusing sendiri jika harus membaca versi bahasa aslinya, yakni Spanyol.

Sejak dulu, saya terbiasa membaca buku fiksi dengan tema yang lebih melenceng dari drama romansa—kisah yang sering dibaca oleh anak remaja seusia saya kala itu. Tak sedikit dari rentetan buku yang saya baca berkisah tentang detektif, cerita kriminal, atau kisah yang lebih kompleks ketimbang cerita di sekolah. Tapi, toh tak ada salahnya membiasakan diri menjadi “pendengar” cerita yang baik sejak dini, ‘kan?

Mengikuti Kata Hati

Oh, hanya segini harganya, pikir saya yang telah terbiasa menghabiskan lebih banyak biaya untuk hal lain (yang mungkin lebih tidak penting) ketimbang buku. Tanpa memedulikan bahan untuk DIY nanti, saya bergegas mengantre di kasir untuk segera meresmikan kepemilikan buku setebal 216 halaman ini.

Saya sudah membuat rencana sendiri untuk mengisi sisa 4 hari libur terpanjang di 2021 ini, menonton film yang hingga saat ini belum kesampaian untuk ditonton, entah sehari 2 film, 3 film, atau 5 film, terserah. Mulai dari film tua seperti “12 Angry Men (1957)” hingga film yang baru saja memenangkan Best Picture di Oscar 2021, “Nomadland (2020)” saya masukkan ke dalam list.

Tapi, malam itu, setelah menuliskan tanggal pembelian di halaman terdepan buku, saya berpikir untuk menghabiskan Sang Alkemis sebelum jatah liburan 5 hari ini berakhir, challenge yang lahir dari entah akibat impulsivitas atau antusias. Kemudian, hati kecil saya berbisik, “Damn, this is SO random… but this feels good.

Meski biasanya saya selalu menyampul novel sebelum dibaca, beda dengan The Alchemist. Entah karena sudah lama tak pernah membeli novel (terakhir di tahun 2018), atau saya memang tak peduli. Di hari ketiga liburan, 14 Mei 2021, sekitar pukul setengah 3 sore, akhirnya saya mulai membaca buku, bergantian dengan menonton film Tenet (2020), yang selesai setelah 6 jam diselingi istirahat. Maklum, bila tanpa istirahat, mungkin kepulan asap sudah mengebul di atas kepala saya.

Aturannya, saya akan membaca hingga merasa bosan atau mengantuk, lalu menonton hingga saya merasa perlu break sebentar, kemudian melanjutkan bacaan, lalu melanjutkan tontonan setelah merasa cukup, dan beristirahat lagi, tidak ada aturan tetap yang saya ikuti, hanya belajar mengikuti apa yang hati saya inginkan sembari having fun, alias antusias secara impulsif!

Plot Tanpa Spoiler ‘The Alchemist’

Mari kembali ke pengalaman saya membaca The Alchemist atau Sang Alkemis karya Paulo Coelho yang terbit pada 1988 ini. Kisah ini dimulai dari Santiago, yang selanjutnya disebut “Si Anak Lelaki”, seorang anak asal Andalusia, Spanyol, yang memutuskan untuk menjadi penggembala domba karena dia ingin berkelana ke seluruh dunia.

Orang tuanya berharap Santiago menjadi pastor, maka dia belajar beberapa bahasa selain Spanyol, serta teologia. Namun, keinginannya untuk berkelana mengalahkan semuanya itu, dia lebih memilih untuk menggembala domba dan menunggu tiap tahun hingga dapat bertemu dengan anak saudagar penjual wol yang disukainya.

Setelah mendapat mimpi yang sama tentang menemukan harta karun di “Piramida-Piramida Mesir”, si anak lelaki memulai petualangannya. Dia mencari jawaban tentang arti mimpi tersebut, yang ternyata mimpi tersebut memiliki arti harfiah. Tapi, rasa penasaran inilah yang menuntun si anak lelaki mencapai tujuannya dan (secara tak langsung) impian orang tuanya.

Si anak lelaki bertemu dengan cenayang Gipsi dan seorang yang mengaku dirinya sebagai raja, lalu melepaskan domba-dombanya untuk mengejar mimpinya. Dia menghadapi berbagai rintangan yang mungkin akan membuatnya menyerah jika dia tidak mendengarkan kata hatinya. Tapi, toh, dia tetap taat.

Otak cerdasnya membawa si anak lelaki pada kesuksesan berbisnis, meskipun saat itu bukan bisnis miliknya yang dia kelola. Dia membantu seorang pemilik toko kristal yang hampir saja bangkrut, tapi malah semakin sukses dengan ide bisnis cemerlangnya, yakni menjual teh yang disajikan di gelas kristal yang dia jual sehingga menarik hati pembeli yang tadinya hanya ingin menikmati teh.

Beranjak dari toko kristal, dia berpikir bahwa jika dia kembali, dia akan sama seperti dulu dan tidak dapat menemukan harta karunnya. Kemudian si anak memutuskan untuk melanjutkan impiannya untuk ke Piramida-Piramida Mesir demi mencari harta karun di mimpinya itu.

Dari sinilah pembaca dituntun oleh perjalanan si anak lelaki untuk menemukan diri sendiri, percaya pada kata hati dan belajar untuk berdamai dengan hati. Tapi selain itu, saya juga cukup terkejut karena ada beberapa kutipan dari Alkitab yang disebutkan bahkan hingga akhir cerita dan beberapa tokoh yang mencerminkan seorang Muslim beriman.

Saya melihat bagaimana kedua agama ini saling berdamai dan melengkapi pemahaman Si Anak Lelaki dalam pencarian harta karunnya bersama The Alchemist yang ditemuinya dalam perjalanan. Setidaknya, meski hanya sebentar, saya dapat merasakan kedamaian yang lumayan jarang saya temui di negeri ini.

Jika membaca lebih lanjut, pembaca (atau setidaknya yang saya alami) akan sampai pada renungan-renungan yang lebih mendalam tentang bagaimana Tuhan bekerja dalam diri kita melalui semesta, bahwa cinta sejati tidak menghalangi orang mengejar takdir dan impiannya, serta bagaimana kita dapat menemukan “harta karun” yang tak terlihat karena manusia terlalu pengecut untuk menuruti mimpi mereka.

‘The Alchemist’ juga mengajari saya untuk tetap fokus dalam setiap hal yang kita lakukan. Saya belajar dari wacana orang-orang gurun yang tidak mempermasalahkan masa lalu atau mencemaskan masa depan, mereka hidup seperti hari ini adalah hari terakhir mereka. Entah lebih cepat atau lambat, kita semua akan mati pada waktunya.

Kemudian, saya juga belajar bahwa setiap orang memiliki harta karun yang menanti mereka, sama seperti Firman yang selama ini saya pahami, bahwa setiap manusia yang hidup memiliki tugas dan deadline-nya adalah ketika kita “dipanggil pulang”. Pernyataan ini juga diamini oleh ucapan bijak yang mengatakan bahwa manusia memiliki 3 tanggal penting dalam hidupnya; hari kelahirannya, hari kematian, dan hari ketika mereka menyadari apa tujuan hidup mereka di bumi.

Ada dua paragraf yang saya suka dan saya kutip langsung dari ‘The Alchemist’ terjemahan bahasa Indonesia, ini adalah ungkapan hati Si Anak Lelaki:

Setiap orang di bumi memiliki harta karun yang menanti-nantinya. Kami, hati manusia, jarang banyak bersuara mengenai harta itu, sebab orang-orang tidak lagi hendak mencarinya. Hanya kepada anak-anak kami bicara. Sesudahnya kami biarkan hidup mengambil jalannya sendiri, mengikuti jalurnya sendiri, menuju nasibnya sendiri…”

…Kami tak pernah berhenti bicara, tapi kami mulai berharap perkataan kami tidak terdengar: kami tak ingin orang-orang menderita karena mereka tidak mengikuti suara hati mereka.

Saya merasa bersyukur, karena di tengah bulan-bulan depresif yang menggerayangi saya karena tak bisa bepergian akibat dampak keterbatasan aturan pemerintah, sekali lagi saya mampu mendengarkan hati untuk duduk diam, membaca renungan not-so-religious yang akhirnya mengingatkan saya, bahwa di tengah hiruk pikuknya percakapan tak henti yang terjadi di otak saya, ada hati yang ingin didengarkan.

Hati yang ingin bercerita bahwa dirinya sedang sakit, hati yang bercerita bahwa dirinya mampu mengobati tapi merasa diabaikan karena saya terlalu sibuk memikirkan hal-hal sesimpel “target”, hati yang mulai tak terdengar karena saya lebih mementingkan ide yang diproduksi otak yang mulai lelah, dan hati yang mendorong keluarnya air mata ketika saya menulis paragraf ini.

Simpulan

Akhirnya, Paulo Coelho mengakhiri kisah ‘The Alchemist’ dengan amat cantik dan manis, selembut angin yang mengantarkan pesan rindu dari perempuan yang dikasihi Si Anak Lelaki. Tanpa memberikan spoiler lebih banyak, saya ingin mengatakan bahwa Coelho berhasil mengikatkan pita cantik di akhir perjalanan spiritual Santiago.

Dan untuk hati saya, dari otak, ini adalah kutipan terakhir karakter Robert Pattinson di film Tenet tadi, “I think this is the beginning of a beautiful friendship.” — semoga saja kali ini saya bisa mulai berdamai dengan hati dan menuruti nasihat Sang Alkemis,

Kalau kau mengenal hatimu dengan baik, dia tak akan pernah mengkhianatimu. Sebab kau tahu pasti mimpi-mimpi dan keinginan-keinginannya, dan kau akan tahu juga cara menyikapinya. Kau takkan pernah bisa lari dari hatimu. Jadi, sebaiknya dengarkanlah suaranya.

The Alchemist

Jika kamu sudah membaca sampai sini, saya harap kamu juga ingin menyicipi bagaimana rasanya mendengarkan hati yang mungkin saat ini sedang mengatakan hal yang penting buatmu. Terima kasih telah meluangkan waktu, kini biarkan saya kembali merenung dan mengambil waktu untuk mulai mendengarkan hati saya. Adios por ahora.

Share:

MORE OF MY WORDS

Explore My Other Writings

If any part of this piece felt familiar or comforting, I’d love for you to read more. Each writing carries a small part of me—quiet thoughts, honest moments, and things I’m still learning.

I Got Myself A Birthday Gift

“Kalau aku potong rambut, aku pengin potong rambut for a good cause.” Tidak secanggung itu, tapi kurang lebih seperti inilah

More Stories to Explore

Little pieces of thoughts, moments, and musings—each one capturing something I’ve watched, felt, or stumbled upon. If you’re in the mood to wander a bit more through my reflections, there’s a whole collection waiting for you to dive into.

If there's not enough, I've got more waiting...

Built with love, midnight playlists, and a dash of soft chaos
Copyright © Made by Tristin.

Scroll to Top